Kamis, 05 Mei 2011

tokoh Islam Al-Farabi

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kehadirat Allah yang telah memberikan nikmat dan karunia- Nya kepada kita agar kita dapat menikmati keimanan dan keislaman yang dengan nikmat itu kita akan senantiasa dalam ridha Allah SWT. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi besar Muhammad SAW, juga kepada para sahabatnya, tabi’innya, tabi’it tabi’in juga kita selaku umatnya.
            Dalam makalah yang telah kami susun ini, yaitu berjudul Al-Farabi. Makalah ini kami susun salah satunya untuk memenuhi tugas kelompok Filsafat Islam, juga dipersembahkan untuk para mahasiswa yang ingin memperkaya khanazah keilmuan khususnya dibidang Filsafat. Kami berharap makalah ini bisa membawa perubahan dalam pola paradigma setiap mahasiswa karena selama ini yang terjadi pada para mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris khususnya seringkali tidak ada keseriusan dalam menyelesaikan tugas. Bukan berarti kami yang paling serius, tapi ini hanya sekedar ulasan dari penulis. Semoga makalah ini berguna bagi semuanya.
            Tiada kesempurnaan di atas bumi ini karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari Bapa selaku dosen kami kiranya sedia untuk memperbaiki segala kekurangan yang terdapat didalam makalah kami ini. Akhirnya atas segala hormat,  kami ucapkan terimakasih.


Bandung, Oktober  2009
                                                                                                                                            
                                                                                                                                              Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Filsafat Muslim sebagaimana sejarah Muslim umumnya, telah melewati lima tahap yang berlaianan. Tahap pertama berlangsung dari abad ke 1 H/7 M hingga jatuhnya Baghdad. Tahap kedua adalah tahap keguncangan-keguncangan selama setengah abad. Tahap ketiga merentang dari awal abad ke-4/14 hingga awal abad ke-12/18. Tahap keempat merupakan tahap yang paling menyedihkan, berlangsung selama satu aetengah abad. Inilah zaman kegelapan Islam. Tahap kelima bermula pada pertengahan abad ke-13/19, yang merupakan periode renainsans modern. Dengan demikian, sejarah filsafat Muslim mengalami dua kali pasang-surut. Dan kini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan kembali. Periode renainsans modern dalam Islam ditandai dengan munculnya perjuangan-perjuangan politis untuk melepaskan diri dari dominasi asing dan konformisme dalam kehidupan dan pemikiran. Para filosif pada masa ini bukanlah sekedar filosof, melainkan juga pemimpin politik, pembaharu sosial dan eksekutif.
BAB II
ISI


Sejarah Singkat Al-Farabi

            Abu Nasr al-Farabi lahir pada tahun 258 H/870 M dan meninggal pada tahun 339 H/950 M. Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membaktikan diri untuk berpikir dan merenung menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakt. Ia telah meninggalkan risalah penting. Di samping murid-murid yang belajar secara langsung, banyak pula orang yang mempelajari karya-karyanya sepeningglanya, dan menjadi pengikutnya. Filasafatnya menjadi acuan ilmiah bagi Barat dan Timur, lama sepeninggalnya.
            Sejak dasa warsa terakhir pada abad ke-13 H/ke-19 M, telah dilakukan banyak usaha untuk menulis biografinya, mengumpulkan karya-karya yang belum di terbitkan, dan menjelaskan hal yang masih samar did lama karya filasafatnya. Pada tahun 1370 H/1950 M, seribu tahun setelah meninggalnya, beberapa sarjana Turki menemukan beberapa karyanya yang masih berupa naskah dan memecahkan beberapa kesulitan yang berkaitan dengan pemikirannya.
            Uraian secara singkat keidupan, karya dan filsafat al-Farabi, dengan merujuk secara khusus kepada mata rantai yang terputus, salah paham atau keberatan-keberatan terhadap doktrinnya.

A.    Kehidupannya
Berbeda dengan kelaziman beberapa muslim lainnya , al-Farabi tidak menuliskan riwayat Hidupnya, dan tak ada seoran pun diantara pengikutnya merekam kehidupannya, sebagaimana telah dilakukan al-juzjani untuk gurunya, ibn sina. Materi untuk itu dalam karya-karya ahli riwayat, sanat tidak memuaskan dan tidak memadai. Biografi yang agak panjang termaktuh dalam Wafayat al-A’yan-nya ibn khalikan, tetapi banyak kelemahannya dan perlu diragukan keasliannya. Oleh karena itu, menngenai kehidupan al-Farabi, masih terdapat kesaamaran dan beberapa masalah uyang masih perlu diteliti dan dituntaskan.
            Kehidapan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua periode, yang pertama bermula sejak ia lahir samapai ia berusia lima puluh tahun. Ia lahir di Wasij, sebuah dusun di dekat Farab, di Transoxiana, pada tahun 258 H/870 M. Dengan informasi yang sangat tidak memadai ini, kita dapat mengetahui keluarganya, masa kanak-kanaknya dan masa remajanya. Ia lahir sebagai orang Turki, ayahnya seorang jendral dan ia bekerja sebagai hakin untuk beberapa lama. Pada awal abad ke-3 H/ke-9 M di Farab berlangsung gerakan kebudayaan dan pemikiran yang meluas dengan pengenalan islam, pada saat itu terkenal pula seorang ahli bahasa al-Jauhari, yang tealh menulis buku al-Shihah, salah seorang yang sezaman dengan al-Farabi.
Pendidikan dasarnya ialah keagamaan dan bahasa: ia mempelajari fiqh, Hadis dan tafsir al-Qur’an. Ia mempelajari bahasa Arab, bahasa Turki dan Parsi. Adalah meragukan apakah ia menguasai bahasa lain apa pun, dan apa yang telah dinyatakan oleh ibn Khalikan, bahwa al-Farabi menguasai tujuh puluh bahasa lebih mendekati sebagai dongeng daripada sejarah yang sebenarnya.  Dari penafsiran al-Farabi tentang kata safsathah (sophistry), Nampak jelas bahwa al-Farabi tidak mengerti bahasa Yunani. Ia tidak mengabaikan manfaat yang dapat diperoleh dari studi-studi rasional yang berlangsung pada masa hidupnya, seperti matematika dan filsafat, meskipun tampkanya ia ttidak berpaling kepada keduanya sampai kemudian. Bertentangan dengan apa yang di duga orang, ia tidak banykan memperhatikan ilmu kedokteran.
            Periode kedua kehidupan al-Farabi dalah periode usia tua dan kematangan penuh. Baghdad, sebagai pusat belajar yang terkemuka pada abad ke-4 H/ke-10 M, merupakan tempat pertama yang dikujunginya, disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya para filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantara ahli-ahli logika terkenal di Baghdad, Abu Bisyr Matta ibn Yusnus-lah yang dipandang orang sebagai ahli logika paling terkemuka di zamannya. Ia mengungguli gurunya, dan karena pencapaiannya yang gemilang di bidang ini, ia memperoleh sebutan “guru kedua”. Ahli logika lain ialah muridnya yang bernama Yahya ibn ‘Adi.
            Al-Farabi mukim selama dua puluh tahun di Baghdad dan kemudian tertarik oleh pusat kebudayaan lain di Aleppo. Disana, di tempat orang-orang brilian dan para sarjana, Istana Saif al-Daulah, berkumpul para penyair, ahli bahasa filosof dan sarjana-sarjana kenamaan lainnya. Meski ada simpti kuat kearaban dari istana tersebut, namun tidak ada rasa ke-ras-an atau prasangka yang dapat merusak suasana intlektual dan cultural, yang didalamya orang-orang Persia, Turki, dan Arab diskusi dan berdebat, sepakat atau berbeda pendapat tanpa mencari keuntungan pribadi dalam menuntut ilmu pengetahuan. Di istana tersebut al-Farabi tinggal dan merupakan orang pertama dan terkemuka, sebagai sarjana dan pencari kebenaran. Kehidupan yang gemerlap dan kemegahan di istana itu tidak mempengaruhinya dan dalam pakaian seorang Sufi- ia membebani dirinya dengan tugas berat seorang sarjana dan pengajar; ia menulis buku-buku dan artikel-artikel dalam suasana gemercik air sungai dan dibawah dedaunan dan pepohonan yang rindang.
            Kecuali beberapa perjalanan singkatnya ke luar negeri, al-Farabi mukin di Syria hingga wafat pada tahun 339 H/950 M. Ibn Usaibi’ah menyebutkan bahwa al-Farabi mengunjungi Mesir menjelang akhir hayatnya. Tersiarnya kabar mengenai terbunuhnya al-Farabi oleh beberapa perampok dalam pejalanannya antara Damaskus-Asqalan sebagaimana dikutip al-Baihaqi adalah rekaan belaka.  al-Farabi mencapai posisi yang sangat terpuji di istana Saif al-Daulah, sampai sang raja besama pengikut dekatnya mengantarnya jenazahnya ke pemakamannya sebagai penghormatannya atas kematian seorang sarjana terkemuka.

B.     Karya-Karyanya
Ia meninggalkan sejumlah besar tuliasan yang penting; bahkan bila kita mempercai laporan-laporan beberapa penulis biografi seperti al-Qifti atau abi Usaibi’ah jumlah tulisannya itu ialah tujuh puluh buah; memang kecil, bila dibandingkan dengan karya-karya filosof pada masanya, terutama al-Kindi dan al-Razi yang dokter itu. Karya-karya al-Farabi dapat dibagi menjadi dua, satu diantaranya mengenai logika dan yang lainnya mengenai bidang lain. Karya-karya ttentang logika menyangkut bagian-bagian berbeda dari organon-nya Aristoteles, baik yang berbentuk komentar maupun ulasan panjang. Kebanyakan tulisan ini berupa naskah; dan sebagaian besar dari naskah-naskah ini belum ditemukan. Sedang karya karya kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat,fisika,matematika,metafisika,etika dan politk. Sebagian diantaranya telah ditemukan, dan hal ini memperjelas aspek pemikiran filosofis al-Farabi. Tetapi sebagian lainnya meragukan dan kepenulisannya tentangnya merupakan masalah controversial, seperti dalam hal fusus al-Hikam (Permata kebijaksanaan) atau al-Mufariqat (keterpisahan). al- Farabi menulis buku nya di Baghdad dan  Damaskus. Tidak terdapat tanda-tanda bahwa ia pernah menulis buku pada usia sebelum lima puluh tahun, kalaupun ia menulis beberapa buku demikian, tak dapat dipastika apakah karya-karya itu berupa teologi atau filsafat yang saling bertentangan. Beberapa sarjana telah berusaha menulis daftar kronologis karya-karyanya.
Langgam al-Farabi bersifat ringkas dan tepat. Ia secara hati-hati memilih kata-kata dan pernyataan-pernyataannya, sebagaimana ketika ia secara mendalam memikirkan pendapat-pendapatnya dan pemikiran-pemikirannya. Ungkapan-Ungkapannya mempunyai arti yang menghujam. Itulah sebabnya kenapa Max Harton memeberikan komentar panjang lebar untuk menerangkan risalah kecilnya yang berjudul Fusus al-Hikam.
Metode yang ia pakai hamper sama dengan langgam yang di milikinya. Ia mengumpulkan dan menggeneralisasi ; ia menyusun dan meyelaraskannya ; ia menganalisis untuk menulis ; ia membagi dan membagi lagi agar terpusat dan terkelompokkan dalam beberapa tulisannya, pembagian dan penggolongan tampak hanya sebagai tujuan belaka. Risalahnya yang berjudul “apa yang harus dipelajari sebelum mencoba filsafat” berbentuk index aliran-aliran filsafat Yunani, arti judul-judul dan nama-nama pengarangnya.
Al-Farabi gemar kebalikan-kebalikan; ia memang memberikan kebalikan pada hamper setiap istilah yang digunakannya, sehingga penolakan berarti pengesahan; dan kejadian, bukan kejadian. Perhatian utamanya adalah menegaskan dasar-dasar teori dan landsan doktrin, mempercerah kegelapan-kegelapan dan membicarakan masalah-masalah controversial untuk memperoleh kesimpulan yang benar.
Karya-karya al-Farabi tersebar luas di Timur pada abad ke-4 dan 5 M/ke-10 dan 11 M dan mungkin mencapai barat ketika sarjana-sarjana Andalusia menjadi pengikut al-Farabi. Beberapa tulisannya pula telah di terjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Latin, dan telah mempengaruhui sarjana Yahudi dan Kristen. Karya-karya ini telah diterbitkan pada sepuluh tahun terakhir abad ke-13 H/ke-19 M dan beberapa diantaranya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa modern. Tetapi pada saat ini masih diperlukan lagi sejumlah besar publikasi kembali dengan penyutingan cermat, terutama karena sekarang ini perpustakaan-perpustakaan di Istanbul telah lebih banyak terbuka bagi kita daripada sebelumnya dan kita dapat mengisi kesenjangan melalui jalan itu.



C. Filsafatnya
            Filsafat al-Farabi mempunyai corak dan tujuan yang berbeda. Ia mengambil ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya sedemikian sistematis dan selaras. Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskusi, keterangan dan penalarannya. Filsafatnya mungkin bertumpu pada beberapa perkiraan yang keliru dan mungkin juga berisi beberapa hipotesis yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern, tetapi ia mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya. Dimulai dengan studi logika al-farabi, akan dijelaskan corak dan unsur-unsur penting filsafatnya.

1.      Logika.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebagian besar karya al-farabidipusatkan pada studi tentang logika, tetapi hal ini hanya terbatas pada penulisan kerangka Organon, dalam versi yang dikenal oleh para sarjana Arab saat itu. Ia menyatakan bahwa “seni logika, umumnya memberikan aturan-aturan yang bila diikuti dapat memberikan pemikiran yang besar dan mengarahkan manusia langsung kepada kebenaran dan menjauhkan dari kesalahan-kesalahan.” Menurutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagaimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmumantra dengan syair. Ia menekankan praktek dan penggunaan aspek logika, dengan menunjukkan bahwa pemahaman dapat diuji lewat aturan-aturannya, sebagaimana dimensi, volume dan massa ditentukan oleh ukuran.
Logika juga membantu kita membedakan yang benar dan yang salah dan memperoleh cara yang benar dalam berfikir atau dalam menunjukkan orang lain kepada cara ini; ia juga menunjukkan dari mana kita mulai berfikir dan bagaimana mengarahkan pikiran itu kepada kesimpulan-kesimpulan akhir. Dalam berpidato dan berdialog, atau dalam geometri dan ilmu hitung, logika tak pernah dapat dikesampingkan, sebagaimana dalam mempelajari sejumlah puisi atau pidato, orang tak dapat mengesampingkan tata bahasa. Seni logika-menurut pendapat umum bukanlah sekedar hiasan tak berguna, karena ia tak dapat digantikan kemampuan ilmiah.
Tetapi al-Farabi selalu membedakan antara tata bahasa dan logika; tata bahasa hanya berkaitan dengan kata-kata, sedangkan logika berkaitan dengan kata-kata, sedangkan logika berkaitan dengan arti dan kata-kata yang merupakan penjelmaan makna. Terlebih, tata bahasa selalu berkenaan dengan aturan-aturan bahasa, sedang bahasa itu berbeda-beda, tetapi logika berkaitan dengan pemikiran manusia yang selalu sama dimana dan kapan pun.
Masalah pokok logika ialah topik-topiknya yang membahas aturan-aturan pemahaman. Topik-topik itu dikelompokkan menjadi delapan:
a.       Pengelompokkan;
b.      Penafsiran;
c.       Pengupasan pertama;
d.      Pengupasan kedua;
e.       Topik;
f.       Sofistik;
g.      Retorik;
h.      Puisi;
yang kesemua itu merupakan tujuan utama logika. Bagian ke empat merupakan bagian paling penting dibandingkan yang lainnya; yang terdahulu dapat dianggap sebagai pendahuluan dan berikutnya merupakan penerapan dan perbandingan yang dimaksudkan untuk menghindari kesalahan dan kebingungan.
Jelaslah bahwa al-Farabi mengikuti langkah-langkah Aristoteles, meskipun ia memasukkan retorika dan puisi kedalam cabang logika. Kesalahan serupa dilakukan oleh para pengikut Aristoteles, terutama yang berasal dari aliran Alexandria. Beberapa diantara mereka bahkan mengakui Isagoge (pendahuluan) nya Porphyry sebagai bagian dari Organon-nya Aristoteles, tetapipengakuan ini tidak didukung oleh al-Farabi yang terkenal sebagai “Guru Kedua” (The Second Teacher), sedang Aristoteles dianggap sebagai Guru Pertama. Tak diragukan lagi, pemaparan dipandang penting oleh Aristoteles, tetapi tampaknya ia lebih bangga dengan penemuannya tentang silogisme.
Sumbangan al-Farabi di bidang logika ada dua. Pertama, ia telah berhasil secara tepat dan jelas menerangkan logika Aristoteles kepada bangsa yang berbahasa Arab. Dalam pendahuluan dari salah satu risalahnya yang diterbitkan akhir-akhir ini, ia menunjukkan bahwa ia menerangkan prinsip-prinsip silogisme Aristoteles dalam istilah yang dikenal oleh bangsa Arab; karena itu ia memberikan contoh dari kehidupan sehari-hari yang terjadi pada masa hidupnya, yang menggantikan conto-contoh samar dan asing yang telah digunakan oleh Aristoteles. Proses yang dilakukannya betapapun tidak merugikan studi logika Aristoteles, dan tidak pulamembuat jalan lain, atau memutarbalikkan arti filsafatnya.
Pada pihak lain, al-Farabi meletakkan landasan bagi lima bagian penalaran, dengan menampakkan sifat demonstratifnya bila hal itu membawa kepada kepastian; diakletik, bila hal itu membawa kepada kesamaan keyakinan lewat niat baik; sofistik, bila hal itu membawa pada kesamaan keyakinan lewat niat buruk dan kesalahan; retorik, bila hal itu membawa kepada suatu pendapat yang mungkin; dan puitis, bila hal itu membawa kepada imajinasi yang menyenangkan atau menyakitkan jiwa. Keragaman ini diberlakukan sesuai dengan situasi dan tingkatan pendengar. Para filosof dan sarjana menggunakan penalaran demonstratif, ahli teologi menggunakan silogisme diakletik dan politikus menggunakan silogisme retorik. Jelaslah bahwa cara menghadapi setiap kelompok masyarakat harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan mereka; dengan demikian, silogisme demonstratif digunakan untuk kelompok dan massa yang sulit.
2.      Kesatuan Filsafat.
Al-Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan. Karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Plato dan Aristoteles, “yang menjadi cikal-bakal filsafat dan pencipta unsur-unsur dan prinsip-prinsipnya dan penanggung jawab terakhir kesimpulan-kesimpulan dan cabang-cabangnya,” sangat setuju meski ada beberapa perbedaan formal dan jelas antara mereka. Maka dari itu, al-Farabi sangat yakin bahwa hanya ada satu aliran filsafat , yaitu aliran kebenaran. Istilah-istilah pengikut Aristoteles, Plato, Stoi dan Epicure hanya menjelaskan nama-nama kelompok filosof. Kesemuanya merupakan kerikil-kerikil dalam filsafat, sebagaimana terjadi dalam politik. Al-Farabi sebagai filosof dalam sejarah, menyadari sepenuhnya bahaya sekelompokan ini, sedikit banyak dipengaruhi oleh fanatismediantara para filosof-filosof besar. Di samping usaha menyelaraskan ajaran-ajaran berbagai ajaran filosof, pengikut-pengikut itu pun mempertahankan perbedaan-perbedaan besar antara dua guru dengan menekankan pengertian-pengertian berlainan, malah kadang-kadang membuat alternatif baru dan mengungkapkan ajaran-ajaran mereka secara salah. Sikap al-Farabi terhadap perdebatan dan perbedaan para filosof masa Renaissance ini sama dengan sikap para filiosof abad 12 H/18 M.
Dalam ajaran al-Farabi tak ada yang baru; Ajaran itu telah dianut terlebih dahulu oleh para filosof dari aliran Yunani terkemudian, terutama yang berasal dari aliran Alexandria. Ketika Porphyry berbicara tentang gurunya, ia menunjukkan bahwa ia telah menemukan gagasan-gagasan para pengikut Aristoteles dan Stoi yang terlebur dalam karya-karya Plotinus. Sebenarnya, Porphyry telah menghasilkan beberapa karya dalam upaya merujujjan filsafat Plato dengan filsafat Aristoteles; dan sejumlah sarjana dari aliran Alexandria mengikuti langkah-langkahnya; tetapi di antara mereka tiada seorang pun pernah berfikir tentang pemaduan semua filosof menjadi satu aliran. Ini merupakan suatu kealpaan, dan al-Farabi dalam tulisan-tulisannya banyak membahas persoalan ini sebagai upaya mencari jalan keluar.
Kebenaran agama dan kebenaran filsafat secara nyata adalah satu, meskipun secara formal berbeda. Pendapat ini menunjukkan kemungkinan persesuaian antara filsafat dan ajaran Islam. Tak diragukan bahwa al-Farabi adalah orang pertama yang telah membangun filsafat di atas dasar kesesuaian ini; kemudian para filosof mengikuti langkah-langkahnya itu; ibn Sina pada tahap tertentu telah memaparkan aspek-aspek Platonisnya, sedangkan ibn Rusyd sibuk menunjukkan persesuaian antara filsafat Aristoteles dan agama.
Ajaran tentang perujukan ini didasarkan pada dua hal utama; pertama, memperbaiki filsafat pengikut Aristoteles dan membungkusnya dalam bentuk Platonis agar lebih sesuai dengan ajaran Islam; dan kedua, memberikan penafsiran rasional tentang kebenaran agama. Sebenarnya, al-Farabi menerangkan filsafat dengan cara agama dan memilsafatkan agama, dengan demikian mendorong keduanya ke satu arah, sehingga keduanya bisa dipahami dan selaras. Revisi terhadap filsafat pengikut Aristoteles ini di dasarkan pada dua teori, pertama, teori kosmologis dan kedua, teori psikologis, yaitu: Teori Sepuluh kecerdasan dan Teori Akal Penjelasan rasionalnya bertumpu pada dua teori lain, pertama dikaitkan dengan kenabian dan kedua dengan penafsiran Quran. Seluruh filsafat al-Farabi terangkum dalam empat teori ini yang salin berkaitan dan kesemuanya mengarah ke satu tujuan.

3. Teori Sepuluh Kecerdasan

Teori ini menempati bagian penting dalam filsafat muslim; ia menerangkan dua dunia; langit dan bumi; ia menafsirkan gejala gerakan dua perubahan. Ia merupakan dasar fisika dan astronomi. Bidang utama garapannya ialah pemecahan masalah Yang Esa dan yang banyak dan pembandingan antara yang berubah dan yang tetap. Al-Farabi berpendapat bahwa Yang Esa, yaitu Tuhan, Yang ada dengan sendiri-Nya; karena itu, Ia tidak memerlukan yang lain bagi ada-Nya atau keperluan-Nya. Ia mampu mengetahui diri-Nya sendiri. Ia mengerti dan dapat dimengerti. Ia sangat unik, karena sifatnya memang demikian. Tak ada yang sama dengan-Nya. Ia tidak memiliki persamaan atau perlawanan.
Bila premis-premis di atas dapat diterima, lantas apakah pengaruh Tuhan terhadap alam semesta ini,  dan bagaimana hubungan antara Dia dan yang banyak? Al-Farabi telah berusaha keras untuk menyelesaikan masalah-masalah ini dengan semacam pemancaran. Ia berpendapat dari yang Esalah memancar yang lain, berkat kebaikan dan pengetahuan sendiri-Nya. Pemancaran ini merupakan kecerdasan pertama. Dengan demikian pengetahuan sama dengan ciptaan, karena cukuplah melukiskan sesuatu untuk mengadakannya. Kecerdasan (intelegensi) pertama mungkin dengan sendirinya, perlu oleh yang lain; dan ia memikirkan Yang Esa dan dirinya. Ia adalah satu dalam dirinya, dan banyak berkat pertimbangan-pertimbangan ini. Dari sinilah al-Farabi memulai langkah pertama kearah pelipatan. Dari pemikiran oleh intelegensi pertama Yang Esa, lahirlah intelegensi yang lain. Karena pemikiran tentang dirinya sendiri bisa terjadi pada dirinya memancarlah materi dan bentuk “langit pertama”, sebab setiap lingkungan (sphere) mempunyai bentuk tersendiri yang adalah ruhnya. Beginilah rantai pemancaran berlangsung hingga melengkapi sepuluh intelegensi sembilan lingkungan dan sembilan ruh mereka. Intelegensi yang kesepuluh dan terakhir, atau intelegensi agen, adalah yang mengatur dunia fana ini. Dan intelegensi inilah mengalir ruh-ruh manusia dan empat unsur.
Intelegensi-intelegensi dan ruh-ruh ini merupakan susunan hirarkis. Intelegensi pertama dalam hirarki yaitu yang paling tinggi, kemudian ruh-ruh lingkungan dan lingkungan itu sendiri. Susunan terakhir yaitu bumi dan dunia materi yang berada pada urutan keempat. Orang Yunani kuno berpendapat bahwa segala yang bercorak langit adalah suci, dan segala yang bercorak bumi tidak suci. Ajaran Islam menerangkan bahwa langit merupakan kiblat shalat, sumber wahyu dan tujuan akhir mi’raj. Segala yang di langit adalah suci dan tersucikan. Di sini, al-Farabi menyesuaikan ajaran agama dan filsafat, tetapi kesulitan utama terletak pada penekanannya bahwa ketidaksucian bumi timbul dari langit yang suci itu.
Jumlah intelegensi adalah sepuluh, terdiri atas intelegensi pertama dan sembilan intelegensi planet dan lingkungan, karena farabi menggunakan teori-teori yang sama yang digunakan oleh ahli-ahli astronomi Yunani, terutama Ptolomeus yang berpendapat bahwa kosmos terdiri atas sembilan lingkungan yang kesemuanya bergerak mengelilingi bumi secara tetap. Setiap lingkungan mempunyai intelegensi dan ruh. Intelegensi dan ruh merupakan asal gerak. Intelegensi sepuluh mengatur hal-hal yang berkaitan dengan bumi. Ruh adalah penggerak lingkungan, tetapi ia memperoleh kekuatan dari intelegensi. Ia bergerak sesuai dengan kehendak intelegensi; dan menuju kesempurnaan dengan menggerakkan lingkungannya. Karena itu, hasratnyamerupakan sumber geraknya. Sedang intelegensi dalam perputarannya merupakan hasrat abadi. Yang rendah menghasratkan yang tertinggi, dan segalanya menghasratkan Yang Satu, yaitu penggerak pertama (Prime Mover), meskipun Ia tak tergerakkan.
Gerak lingkungan disebabkan oleh semacam tarikan spiritual: lingkungan yang lemah selalu ditarik oleh lingkungan yang lebih kuat. Proses ini merupakan dinamis spiritual yang serupa dengan proses Leibinz, meskipun ia bergantung pada kekuatan spiritual yang tidak sama. Tampaknya al-farabi, sebagai pemusik, berupaya memasukkan sistem keselarasan musikal ke dalam dunia lingkungan.
Tetapi, kesimpulan-kesimpulan al-Farabi tentang fisika berhubungan erat dengan teori-teori tentang astronomi. Dari intelegensi kesepuluh, lahirlah materi-materi utama atau hyle, yang merupakan asal dari empat unsur, dan dari intelegensi itu pula lahirlah bentuk-bentuk berlainan yang menyatu dengan hyle untuk membentuk wadag. Dunia bumi hanyalah serangkaian aneka bentuk berlainan yang menyatu dengan materi atau terpisah darinya. Pertumbuhan merupakan hasil persatuan bentuk dan materi, dan kerusakan merupakan hasil perpisahan mereka. Gerak matahari menghasilkan panas dan dingin yang perlu bagi perubahan. Semua intelegensi yang terpisah menghasilkan gerak yang bermanfaat bagi dunia bumi. Di sini fisika berbaur dengan kosmologi dan dunia bumi diatur oleh dunia langit.
Betapapun al-Farabi menolak apa yang disebut astrology, yang berkembang luas pada masanya, dan dikembangkan oleh para filosof Stoic dan sarjana-sarjana Alexandria pada masa-masa sebelumnya. Al-Farabi tidak menolak hubungan sebab akibat dan hubungan antara sebab akibat. Karena sebab mungkin terjadi secara langsung atau tidak langsung; dan bila menemukan hal pertama merupakan perkara yang mudah, maka untuk hal terakhir merupakan perkara yang sulit. Karena itu, kejadian-kejadian terjadi atau kebetulan, dan tak ada jalan untuk mengendalikan kebetulan. Bagaimanakah seorang ahli astrologi mengaitkan kematian kematian seorang amir dengan gerhana matahari? Atau bagaimana penemuan sebuah planet baru berkaitan dengan suatu perang? Bagaimanapun, kepercayaan kepada kejadian kebetulan itu hakiki dalam politik dan agama, karena hal itu memberikan rasa takut, harapan serta mendorong untuk patuh dan berupaya.
Al-Farabi, melalui ajaran sepuluh intelegensi ini, memecahkan masalah gerak dan perubahan. Ia menggunakan teori itu pula ketika memecahkan masalah Yang Esa dan yang banyak, dan dalam memadukan teori materi Aristoteles dengan ajaran Islam tentang penciptaan. Materi itu tua, serta sepuluh intelegensi, tetapi ia tercipta karena ia memancar dari intelegensi agen. Untuk mengukuhkan ke-Esaan Tuhan, al-Farabi memilih menengahi sepuluh intelegensi itu ini antara Tuhan dan dunia bumi.
Beberapa unsur teori sepuluh intelegensi dapat dilacak pada sumber asal mereka yang berbeda-beda. Aspek astronominya identik sekali dengan penafsiran Aristoteles tentang gerak lingkungan. Teori Pemancaran diperoleh dari Plotinus dan aliran Alexandria. Tetapi secara keseluruhan, hal itu merupakan suatu teori al-Farabi, yang ditulis dan diformulasikan untuk menunjukkan kesatuan kebenaran dan metodenya tentang pengelompokkan dan sintesis. Ia memadukan Plato, Aristoteles, agama dan filsafat. Teori ini berhasil baik dikalangan filosof Timur dan Barat abad pertengahan. Tetapi usaha pemaduan seperti itu memaksa beberapa konsesi dari satu pihak atau beberapa pihak; dan bila hal ini menyenangkan beberapa orang, maka terdapat pula beberapa orang lain yang menyesalkannya. Kemudian teori ini dipegang kuat oleh ibn Sina yang merangkumkannya dan memaparkannya, sedangkan al-Ghazali menolak keras. Di antara sarjana-sarjana Yahudi, ibn Gabriol sedikit pun tak mengacuhkannya, sedang Maimonindes secara antusias berpegang padanya. Maski sarjana-sarjana Kristen berkeberatan terhadap teori ini, namun teori ini membuat mereka hormat dan menghargainya.

4. Teori tentang akal

Teori psikologi Aristoteles telah lama terkenal sederhana dan tepat, dan sebagai suatu studi obyektif, ia tidak kurang diperhatikan. Pengelompokkan Aristoteles tentang unsur-unsur jiwa adalah yang pertama dalam hal ini. Ia menekankan kesatuan meski terdapat kejamakan unsur jiwa dan menjelaskan pertaliannya dengan tubuh. Ia telah mengupayakan Teori tentang akal, meski tak memadai, sehingga menimbulkan masalah yang membingungkan yang modern dan yang kuno. Tetapi tulisannya “Perihal Jiwa”, merupakan karya terbaik diantara karya-karya kuno psikologi, bahkan melebihi beberapa karya modern. Pada abad-abad pertengahan, ia merupakan karya sepopuler Organon.
Buku ini diperkenalkan kepada orang Arab melalui terjemahan bahasa Syiria dan bahasa Yunani, berikut komentar-komentar kuno, terutama komentar-komentar Aleksander dari AphrodisiasThemistius, Simplicius.Ia merupakan subjek studi ekstensif filusuf Muslim yang memberikan komentar dan uraian tentangnya. Terpengaruh oleh Aristoteles dan karyanya, para filosof ini menulis berbagai dalil dan uraian tentang psikologi. Mereka terutama memusatkan pada masalah akal yang merupakan salah satu diantara masalah-masalah yang dipelajari oleh para filosof skolastik.
Al-Farabi menyadari sepenuhnya arti masalah ini, dan melihat di dalmnya suatu ringkasan dari Sepuluh Teori Ilmu Pengetahuan. Ia dengan baik mengidentifikasikannya dengan filsafatnya sendiri, karena berkaitan dengan Teori Sepuluh Intelegensi dan juga merupakan fondasi Teori Kenabian. Ia telah membahas masalah akal di beberapa tempat dalam karya-karyanya, dan ia telah mengupayakan suatu karya yang menyeluruh, “Perihal Aneka Makna Akal.” Karya ini tersebar luas dikalangan para sarjana Timur dan Barat abad-abad pertengahan, dan diterjemahkan ke dalam bahasa latin.
Al-Farabi mengelompokkan akal menjadi akal praktis, yaitu yang menyimpulkan apa yang mesti dikerjakan; dan teoritis, yaitu yang membantu menyempurnakan jiwa. Akal teoritis ini di bagi lagi menjadi: yang fisik (material), yang terbiasa (habitual), dan yang diperoleh (acquired).
Akal fisik, atau sebagaimana yang sering disebut al-farabi sebagai akal potensial, adalah jiwa atau bagian jiwa atau unsur yang mempunyai kekuatan mengabstraksi dan mencerap esensi kemaujudan. Bila dibandingkan, maka ia hampir seperti materi yang atasnya bentuk-bentuk kemaujudan dapat dilukiskan tepat sebagimana lilin yang diatasnya dapat diukirkan tulisan. Ukiran ini tiada lain adalah persepsi atau pemahaman. Maka pemahaman mewujud dalam bentuk daya dalam hal-hal yang dapat dirasa; dan bila pemahaman itu di bawa ke dalam bentuk, maka akal ditransformasikan dari akal dalam bentuk daya ke akal dalam bentuk aksi.
Karena itu, akal dalam bentuk aksi, atau kadang disebut akal terbiasa, adalah salah satu tingkat dari tingkat-tingkat pikiran dalam upaya memperoleh sejumlah pemahaman. Karena pikiran tak mampu menangkap semua pengertian, maka akal dalam bentuk aksilah yang membuat ia mencerap, dan akal dalam bentuk daya mengenai apa yang belum ia cerap. Sedang pemahaman itu sendiri berbentuk daya alam yang dapat dirasa. Begitu manusia memperoleh tingkat akal dalam bentuk aksi ini, maka ia dapat memahami dirinya. Pencerapan semacam ini tidak mempunyai kaitan dengan dunia luar, ini adalah pencerapan mental dan abstrak.
Begitu akal mampu mencerap abstraksi, maka ia naik lagi ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu ke tingkat akal yang diperoleh (acquired intellect), yaitu suatu tingkat di mana akal manusia mengabstraksi bentuk-bentuk yang tidak mempunyai hubungan dengan materi.
Perbedaan antara konsep rasional ini dan persepsi inderawi, yaitu bahwa yang pertama adalah semacam intuisi dan inspirasi, atau dengan kata lain, ia adalah semacam pencerapan langsung. Ini adalah tingkat pencerapan tertinggi manusia, dan ini hanya dapat dicapai oleh beberapa orang tertentu saja, yaitu mereka yang telah mencapai tingkat akal yang diperoleh, yang di dalamnya yang tersembunyi menjadi tersingkap dan langsung berhubungan dengan dunia intelegensi yang terpisah.
Dengan demikian, akal mampu meningkat secara bertahap dari akal dalam bentuk daya ke akal dalam bentuk aksi dan akhirnya ke akal yang diperoleh. Dua tingkat berurutan ini berbeda satu sama lain meskipun tingkat yang lebih rendah selalu bertindak sebagai pendahulu bagi tingkat yang lebih tinggi. Akal dalam bentuk daya hanyalah penerima bentuk-bentuk yang dapat di rasa, sedang akal dalam bentuk aksi memepertahankan pengertian-pengertian dan pencerapan-pencerapan. Dan akal yang diperoleh naik ke tingkat komuni, ekstase, dan inspirasi. Konsepsi-konsepsi mempunyai tingkatan yang berbeda; mula-mula merupakan pemahaman-pemahaman dalam bentuk daya yang maujud dalam bentuk materi; begitu terabstraksi dari materi, maka mereka menjadi pemahaman-pemahaman dalam bentuk aksi. Yang lebih tinggi lagi ialah bentuk-bentuk abstrak yang tidak pernah ada dalam materi.
Tetapi, peningkatan bertahap ini tidak terjadi secara spontan, sebab tahap pertamanya adalah yang dapat dimengerti akal dalam bentuk daya dan peralihannya dari daya menjadi aktual tidak pernah dapat menjadi kecuali dipengaruhi oleh aktualitas pendahulu yang tindakannya sesuai dengannya. Aktualitas ini adalah intelegensi agen yang terakhir  dari sepuluh intelegensi. Pengetahuan manusia bergantung kepada radiasi intelegensi-intelegensi yang terpisah, dan intelegensi agen mempunyai hubungan dengan akal manusia sebagaimana hubungan matahari dengan kita, untuk dapat melihat; mata; bergantung kepada kita, begitu pula akal kita, ia dapat mencerap bila hanya tersibakkan oleh intelegensi agen yang menerangi jalannya. Karena itu, mistisme berlebur dengan filsafat, dan pengetahuan rasional terjadi bersamaan dengan ekstase dan inspirasi.
Teori al-Farabi tentang akal sebagaimana disebutkan di atas secara jelas didasarkan pada Aristoteles. Al-farabi sendiri secara tegas menyatakan bahwa teorinya itu bertumpu pada bagian ke-tiga dari De Anima-nya Aristoteles, karena teori itu hampir tercirikan dengan intelegensi-intelelegensi yang terpisah, dan bertindak sebagai penghubung antara pengetahuan manusia dan wahyu. Dengan demikian, berbeda dengan teori Alexander dari Aprhodisias dan al-Kindi; dan itu adalah hasil dari kecenderungan dari mistis al-Farabi dan penyandarannya pada sistem Plotinus. Fakta ini menjadi lebih jelas jika kita perhatikan pengaruh intelegensi agen dalam meraih pengetahuan, karena itu adalah hasil dari visi dan inspirasi; itu juga memberi akal bentuk-bentuk abstrak dan mencerahkan jalan untuk itu. Teori itu membantu meleburkan psikologi dan kosmologi, tetapi ia mengecilkan aktivitas akal manusia, karena ia menjadi mampu menyerap hanya jika ia dicerahkan oleh langit; tetapi, apakah kaum Sufi memperhatikan ketidaksempurnaan akal manusia?
Penerimaan secara umum atas teori ini pada abad-abad pertengahan tampak jelas dari kenyataan bahwa ibn Sina tidak saja memakai teori ini, tetapi juga menguatkan dan memperjelasnya; dan ibn Rusyd, meski berpegang teguh pada ajaran-ajaran Aristoteles, tetapi ia juga berada di bawah pengaruh teori ini. Diantara orang-orang Yahudi, Maimonideslah yang mengambil teori ini hampir secara harfiah. Dengan orang-orang Kristen, teori ini berada di puncak masalah-masalah filsafat, karena ia menyangkut teori tentang pengetahuan dan berkaitan erat dengan doktrin kekekalan ruh. Teori ini menyebabkan terjadinya berbagai macam aliran, beberapa di antaranya menerima dan beberapa yang lain menolaknya. Ringkasnya, teori al-Farabi tentang akal adalah yang paling berarti di antara semua teori yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir Muslim, dan telah memberikan pengaruh yang besar pada filsafat Kristen.

5. Teori tentang kenabian.

Dasar setiap agama langit adalah wahyu dan inspirasi. Seorang nabi adalah seorang yang di anugerahi kesempatan untuk dapat langsung berhubungan dengan Tuhan dan diberi kemampuan untuk menyatakan kehendak-Nya. Islam, sebagaimana agama-agama langit lainnya, mempunyai Tuhan sebagai penguasanya. Al-Qur’an mengatakan “ia tidak lain hanyalah wahyu yang di wahyukan – Tuhan Yang Mahakuasa telah mengajarnya.” (QS. 53: 4-5) adalah sangat perlu bagi filosof-filosof Muslim memberikan penghormatan kepada kenabian, merujukan rasionalitas dengan tradisionalisme, dan mewarnai bahasa-bumi dengan firman Tuhan. Hal ini telah diupayakan oleh al-Farabi. Teorinya tentang kenabian dapatlah dianggap sebagai usaha yang paling berarti dalam merujukan agama dengan filsafat. Bahkan dapat juga dianggap sebagai bagian terutama dari sistem yang telah disusunnya., dengan landasan psikologi dan metafisika; dan hal itu berkaitan erat dengan ilmu politik dan etika.
Terpengaruh oleh lingkungan politik dan sosialnya, al-Farabi menekankan studi teoritis tentag kemasyarakatan dan kebutuhannya. Ia telah menulis beberapa risalah tentang politik, yang paling terkenal diantaranya adalah “Kota Mode”. Ia menggambarkan kotanya sebagai suatu keseleruhasn daribagian-bagian yang terpadu, serupa dengan oerganisme tubuh; bila ada bagian yang sakit, maka yang lainnya akan bereaksi dan menjaganya. Kepada masing-masing individu di berikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan kecekapan mereka. Aktivitas-aktivitas sosial masing-masing berada sesuai dengan tujuan masing-masing; aktivitas yang paling baik adalah aktivitas yang diberikan kepada permimpin, karena ia berada di dalam kota sebagaiman jantung di dalam tubuh manusia dan ia merupakan sumber seluruh aktivitas, pangkal keselarasan dan keteraturan.karena itu, diperlukan persyaratyan-persyaratan tertentu bagi penempatanya. Pemimpin harus berani, cerdas, pecinta pengetahuan, pendukung keadilan, dan ia harus naik ke tingkat intelegensi agen agar ia memperoleh wahyu dan inspirasi.
Sifat-sifat ini mengingastkan kita kepada filosof-filofof dalam republiknya Plato, tetapi al-Farabi mernambahkan kepadanya kemampuan berhubungan dengan dunia langit, seolah kota dihuni oleh para wali dan diatur oleh seorang nabi berhubungan dengan intelegensi agen dimungkinkan melalui dua cara: perenungan dan inspirasi. Sebagaimana telah disebutkan di atas, ruh akan naik melalui studi dan pencarian, ketingkat akal yang diperoleh (aquired intellect) ketika ia menjadi penerima cahaya ketuhanan. Tingkat ini bisa dicapai hanya dengan semangat suci para filosof dan para bijak, yaitu mereka yang dapat melihat kegiatan dan menangkap “Cahaya Dunia”. Ruh suci, tak memperhatikan apa yang ada di bawah; dan indera luarnya tidak pernah mengatasi dengan mempengaruhi wujud-wujud lain dan segala yang terdapat di dunia ini. Ia menerima pengetahuan langsung dari ruh tinggi dan para malaikat tanpa perintah manusia pun. Maka melalui studi-studi spekulatif yang berkesinambungan, orang bijak dapat berhubungan dengan intelegensi agen.
Hubungan ini juga mungkin terjadi malaui imajinasi sebagaimana terjadi pada para nabi, karena seluruh inspirasi atau wahyu yang mereka terima berasal dari imajinasi-imajinasi menempati kedudukan yang penting dalam psikologi al-Faribi. Perasaan-perasaan, dan terlibat dalam tindakan-tindakan rasional dan gerakan-gerakan yang berdasarkan kemauan, ia menciptakan gambaran-gambaran mental yang bukan merupakan tiruan dari hal-hal yang dapat dirasa dan yang merupakan sumber mimpi dan visi. Seandainya kita dapat menafsirkan mimpi secara ilmiah, maka ia membantu kita memberikasn penafsiran tentang wahyu dan insfirasi, karena inspirasi kenabian berbentuk impian yang benar dikala tidur atau wahyu dikala jaga. Perbedaan antara keduanya relative, perbedaanya  hanya terletak pada tingkatannya. Sebenarnya, mimpi yang benar tak lain hanyalah satu aspek kenabian.
Bila imajinasi telah terlepas dari aktivitas-aktivitas yang dasar seperti dalam tidur, maka ia sepenuhnya ditempati oleh beberapa gejala psikologis. Dengan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan badani tertentu, atau oleh emosi-emosi dan konsepsi-konsepsi tertentu, ia menciptakan gasmbaran atau komposisi-komposisi baru, dandari gambaran-gambaran mental yang tepertahankan, ia menciptakan bentuk-bentuk baru mereka. Karena itu, kita bermimpi tentang air atau berenang ketika tempramen kita lembab, dan mimpi sering demikian mewakili pemenuhan atas suatu hasrat atau penghindaran dari rasa takut, sehingga seseorang yang sedang tidur bergerak ditempat tidurnya dalam rangka menanggapi emosi tertentu, atau meninggalkan tempat tidurnya dan memukul orang yang asing baginya, atau mengejarnya. Tidaklah perlu menunjukan bahwa pandangan-pandangan ini, meski sederhana, sama dengan gagasan-gagasan para ahli psikologi Modern seperti Freud, Horney dan Murray.
Di dalam daya Imajinasilah tercipta gambaran-gambaran mental yang sesuai dengan pola dunia spiritual. Karena itu, orang yang sedang tidur bisa menyasksikan surga dan para penghuninya dan bisa merasakan kenikmatan dan kesenangannya. Imajinasi bisa juga naik ke dunia langit dan berhubugan dengan intelegensi  agen sehingga ia bisa menerima keputusan langit tentang masalah-masalah dan kejadian-kejadian tertentu. Melalui hubungan ini, yang bisa terjadi siang ataupun malam hari, kenabian dapat diterangkan karena ia merupakan sumber mimpi yang benar dan wahyu. Menurut Al-faribi;” bila daya imajinasi begitu kuat dan sempurna pada diri seseorang dan sepenuhnya teratasi oleh perasaan-perasaan luar… maka ia dapat berhubungan dengan intelegensi agen, yang darinya tercerminlah gambaran-gambaran tentang yang paling indah dan sempurna. Siapapun melihat gambaran-gambaran itu, ia akan meyaksikan keagungan Tuhan. …begitu daya imajinasi manusia benar-benar sempurna- dikala jaga – mungkin ia bisa menerima pra-visi, tentang apa yang sedang dan akan terjadi, dari intelegensi agen… dan dengan demikian, melalui apa yang telah diterimanya itu, ia bisa meramalkan masalah-masalah ketuhanan. Ini adalah tingkat tertinggi yang bisa dicapai oleh imajinasi dan manusia dapat mencapainya melalui daya ini.”
Jadi, sifat utama seorang nabi ialah memiliki daya imajinasi yang tinggi, yang melaluinya ia dapat berhubungan langsung dengan intelegensi agen dikala tidur atau jaga, dan mencapai visi dan inspirassi. Adapun wahyu hanyalah suatu pemancaran ( emanasi) dari Tuhan melalui intelegensi agen, beberapa orang meskipun lebih rendah daripada nabi, memiliki daya imajinasi yang kuat, yang melaluinya ia bisa menerima visi dan inspirasi yang tingkatannya juga lebih rendah. Dengan cara ini alfarabi menempatkan para wali dibawah para nabi. Imajinasi ini massa sangat lemah, sehingga tidak memuingkinkan berhubungan dengan intelegensi agen, baik pada waktu malam maupun siang hari.
Usaha Al-Farabi untuk melakukan perujukan bukanlah satu-satunya motivasi dibalik teori ini. Pada abad ke-3  dan 4 H/ke-9 dan 10 M terjadi gelombang besar skeptikisme yang menolak peramalan dan kenabian. Para juru bicara mereka menyatakan beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tidak percaya kepada kenabian. Yang berada dipuncak skeptikisme itu ialah al-Rawandi yang pernah menjadi pengikut Mu’tazilah akan tetapi kemudian menolak ajaran mereka, dan Muhammad bin Zakaria al-Razi yang dokter itu, adalah lawan yang tangguh. Al-Razi terutama menolakl setiap upaya merujukan agama dan filsafat dengan anggapan bahwa filsafat adalah satu-satunya jalan untuk memperbarui pribadi dan masyarakat, sedangkan agama adalah sumber konflik dan perselisiha. Serangan ini membuat seluruh pusat-pusat keislaman mempertahankan dogma-dogma mereka al.farabi meras perlu ikut membela mereka. Ia menerangkan kenabian secara rasional dan menafsirkannya secara ilmiah.
Ia menerangkan hal itu atas dasar teori mimpi aristoteles yang diperkenalkan kepada dunia Arab. Al-Kindi–pendahulu al-farabi-berpegang pada teori tersebut, ia beranggapan bahwa mimpi adalah gambaran yang dirahasiakan oleh imajinasi yang kapasitasnya bertambah selama tidur setelah lepas dari aktivitas-aktivitas sadar. Tetapi aristoteles menolak bahwa mimpi berasal dari Tuhan, dan menolak peramalan-peramalan yang dilakukan oleh para nabi melalui tidur, jika tidak demikian, maka massa yang banyak mengalami mimpi akan mengklaim bisa meramalkan masa mendatang. Disini al-Farabi berbeda dengan gurunya dan menayatakan bahwa melalui imajinasi dapat berhubungan dengan intelegensi agen, tapi hal ini hanya bagi pribadi-pribadi pilihan. Intelegensi agen adalah sumber hokum dan inspirasi ke-Tuhanan. Menurut al-farabi, hal itu serupa dengan malaikat yang diberi tugas untuk mernyampaikan wahyu sebagaimana dalam ajaran islam. Kemampuan berhubungan dengan intelegensi agen terdapat hanya pada nabi atau filosof, kalau nabi dengan imajinasi, sedang filosof dengan spekulasi dan perenungan. Hal ini dapat dimengerti karena keduanya berdasarkan pada sumber yang sama dan memperoleh pengetahuan mereka diatas sana. Sebenarnya kebenaran agama dan filsafat merupakan pancaran pencerahan   dari Tuhan melalui imajinasi atau penerangan.
Teori al-Farabi tentang kenabian mempunyai pengaruh yang  jelas, tidak hanya pada barat dan timur, tetapi juga pada abad pertengahan dan sejarah modern. Ibn Sina mengiukuti sepenuhnya teori ini. Ibn Rusyd mengakui keabsahan teori ini dan sangat heran atas krtik al-Ghazali karena teori ini memperkuat ajaran agama dan mengukuhkan bahwa kesempurnaan jiwa dapat diperoleh hanya melalui keberhubungan manusia dengan Tuhan. Ketika teori ini diperkernalkasn kepada pemikiran-pemikiran filosofis Yahudi, Maimonides mengambilnya dan menunjukan banyak minat. Dalam tractatus-theologico-politicusd-nya Spinoza, dapat dicatat bahwa Spinoza menerangkan suatu teori serupa yang mungkin sekali dikutip dari Maimonides. Teori itu kemudian digunakan oleh para filosof muslim modern, seperti Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh.

6. Penafsiran atas al-Qur’an.

Beberapa ajaran agama bersifat tradisional (sam’iyyat), dan tak dapat ditunjukan lewat akal, seperti keajaiban, dan hari penetuan yang meliputi hari kiamat, kebangkitan, pengadilan dan hukuman. Menerima sam’iyyat  merupakan tiang agama. Orang-orang berimana menerima isinya dengan ketulusan hati. Tetapi sebagian pemikir dalam upaya memberikan keterangan rasional, menafsirkannya dengan cara tertentu atau menganggapnya agar sekedar hukum alam. Dalam hal ini kaum Mu’tazilah telah berusaha, karena sedimikian jauh dalam menafsirkan ini sehingga mereka menentang kaum transfigures yang menyamakan Tuhan dengan sifat-sifat tertentu yang bertentangan dengan Ke Esaan, kesucian dan ketinggian-Nya.
Al-Farabi melakukan penafsiran yang berbeda. Ia mengakui keabsahan keajaiban, karena hal itu merupakan alat untuk membuktikan kenabian. Ia berpendapat bahwa keajaiban, meski bersifat adi alami, tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena sumber hokum ini terdapat pada dunias lingkungan dan intelegensi yang mengatur dunia bumi; dan begitu kita berhubungan dengan dunia itu, Nabi, sebagaimanas diterangkan diatas, mempunyai kekuatan jiwa yang dapat menghubungkannya dengan intelegensi  agen. Melalui perhubungan inilah, ia dapat menyebabkan hujan turun, tongkat dapat berubah menjadi ular, atau orang buta dan orang sakit lepra dapat disembuhkan. Dengan begini al-Faribi    mencoba-sebagaimana kaum stoic telah melakukan sebelumnya-menjadikannya sebgai kejadian-kejadian sebab-sebab yang berada diluar kebiasaan alam dan bahkan bertentangan dengannya.
Al-Quran menunjuka kepada bermacam-macam sam’iyyat , seperti Tablet dan Pena. Al-Faribi berpendapat bahawa hal-hal ini hendaknya jangan dimengerti secara harfiah, karena pena bukanlah alat untuk menulis, demikian pula tablet, ia bukanlah halaman tempat mencatat kata-kata, tetapi keduanya itu adalah symbol ketepatan dan kelestarian. Al-qur’an juga menerangkan secara luas akhirat, hari kiamat, pahala dan siksa. Tak seorang berimanpun dapat mengingkari kejadian-kejadian ini  tanpa merusak prinsip sangsi ketuhanan dan tanggung jawab individu. Meskipun al-Faribi mengakui secara penuh kebahagiaan yang kekal dan siksaan di akhirast, tetapi ia menjelaskan hal itu sebagai kejadian jiwa yang tidak mempunyai hubungan dengan tubuh atau materi, karena jiwa bukan tubuh yang merasakan kebahagiaan atau penderitaan, bahagia atau susah.
Penafsiran ini sesuai dengan kecenderungan al-farabi kepada spiritualisme. Ibn Sina mengambil dan menggunakannya secara luas. Ibn Sina berpendapat bahwa Tahta dan Kursi adalah simbol-simbol dunia lingkungan. Shalat bukanlah sekedar gerakan fisik, tetapi bertujuan meniru dunia langit. Seolah kedua filosof ini ingin meletakan landasan suatu agama filosofis dan filsafat religious. Namun, al-Ghazali tidak puas dengan usaha ini dan ia menyerangnya, dengan mengam,bil teks-teks kitab suci secara harfiah. Ibn Rsyd, meskipun menyetujui kesesuaian antara agama dan filsafat, namun ia juga tidak puas dengan usaha-usaha itu, karena menurutnya, demi keselamatan keduanya, agama dan filsafat harus dipisahkan. Bila dicampur tidak akan dapat dimengerti oleh orang-orang biasa dan bisa menyesatkan bahwa orang-orang yang mampu berpikir secara mendalam.

BAB III
KESIMPULAN


               Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Sebutan Al-Farabi berasal dari kota Farab. Nama lengkap Al-Farabi : Abu Nashr Muhammad Ibnu  Muhammad Ibnu Tharkhan Al-Farabi.  Al-Farabi pernah tinggal di Baghdad selama 20 tahun, belajar pada Bishr Matta Ibnu Yunus dan Juhana Ibnu Haylam, kemudian ia pindah ke Aleppo untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan filsafat dan juga mengarang . Al-Farabi adalah seorang filosof muslim dalam arti yang sebenarnya. Ia telah menciptakan sistem filsafat yang relatif lengkap, dan telah memainkan peranan penting dalam perkembangan pemikiran filsafat di dunia. Doktrin al-farabi sangat selaras dan konsisten, tiap-tiap bagiannya benar-benar saling berkait. Dari yang Esa, sebab pertama, al-Faribi terus menuju kesepuluh intelegensi, yang darinyas dua dunia langit dan bumi memancar. Lingkungan-lingkungannya digerakan oleh intelegensi-intelegensi yang mengaturnya, dan alam dengan pertumbuhan dan kehancurannya, terkena intelegensi-intelegensi yang lain, yaitu intelegensi agen. Begitu pula politik dan etika, karena kebagahagiaan yang dituntut oleh manusia taklain hanyalah berhubungan dengan dunia langit. “kota Model” –nya hanyalah dimaksudkan untuk ini.
Ajaran ini pada waktu yang sama bersifat spiritualistis dan idealistis, karena al-Farabi hampir memandang segala suatu sebagai jiwa. Adalah jiwa dari segala jiwa, lingkungan-lingkungan astronomisnya diatur oleh jiwa-jiwa langit, dan pangeran kotanya adalah seorang  yang jiwanya mengatasi tubuhnya. Spiritualisme ini berakar pada gagasan-gagasan dan konsepsi-konsepsi, dan secara keseluruhan untuk dispekulasikan dan direnungkan. Yang Esa adalah gagasan tiada tara dan akal yang mengakali diri. Kemaujudan-kemaujudan lainnya disebabkan oleh akal ini. Melalui spekulasi dan perenungan, ,manusia dapat berhubungan dengan dunia langit dan memproleh kebahagiaan sempurna. Tak spritualisme pun berkait erat dengan idealisme kecuali spiritulisme al-faribi
            Meskipun doktrin al-faribi merupakan pencerminan abad-abad pertengahan, tetapi ia mengandung gagasan-gagasan modern dan kontemporer . ia senang terhadap ilmu pengetahuan, menganjurkan eksperimen dan menolak peramalan dan astrologi. Mempercayai sepenuhnya sebab-akibat dan takdir, sehingga ia mengakui adanya sebab-sebab, meskipun terhadap efek-efek yang tak jelas sebabnya. Ia mengangkat akal ketingkat yang sedemikian suci, sehingga ia terdorong untuk mendamaikannya dengan tradisi sehingga tercapai kesesuaian antara fisafat dan agama.  

DAFTAR PUSTAKA


M. M. Syarif, M. A. Para Filosof Muslim. Mizan. Bandung:1985



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar