Minggu, 01 Mei 2011

Filsafat, Ilmu, dan Ilmu Pendidikan

A.      Filsafat, Ilmu, dan Ilmu Pendidikan
Filsafat dalam arti sekarang mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno. Para tokoh filsafat pada waktu itu adalah Socrates (469–399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Para tokoh filsafat inilah yang kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh yang lain, walaupun pandangan mereka belum tentu sama, membuahkan suatu pemahaman tentang filsafat. Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Filsafat membahas suatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya real.
Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu metafisika, epistemologi, logika, dan etika dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :
    1. Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini
    2. Epistemologi ialah filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai berikut :
a.       Ada lima sumber pengetahuan yaitu :
1)       Otoritas
2)       Common sense
3)       Intuisi
4)       Pikiran
5)       Pengalaman
b.      Ada empat teori kebenaran yaitu :
1)       Koheren
2)       Koresponden
3)       Pragmatisme
4)       Skeptivisme
3.   Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara manusia berfikir dengan benar.
4.   Etika ialah filsafat yang menguraikan perilaku manusia.

Pada zaman kuno yang ada hanyalah filsafat. Para ahli fakir pada waktu itu mempelajari dan memikirkan segala sesuatu yang ada dialam ini yang menarik minat mereka. Beberapa diantaramereka tidak merasa puas akan kebenaran itu. Mereka mulai mencari jalan sendiri-sendiri untuk menemukan kebenaran yang dapat memuaskan dirinya. Salah satu hasil upaya mereka adalah melahirkan ilmu. Ketika ilmu baru muncul, baru terlepas dari filsafat sebagai induknya, ilmu masih punya pertautan dengan filsafat. Pada taraf ini ilmu masih menggunakan norma-norma filsafat, yaitu norma-norma tentang bagaimana seharusnya.
Pada taraf selanjutnya, illmu menyatakan dirinya otonom, ia bebas sama sekali dengan konsep-konsep dan norma-norma filsafat. Tingkat prosesnya yaitu :
1.       Tingkat empiris adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan
2.       Tingkat penjelasan atau teoritis, ialah ilmu yang sudah mengembangkan suatu struktur teroris.
Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan keluar dari induknya yaitu filsafat. Dengan salah satu akibat negatifnya yaitu timbulnya sifat kegilaan terhadap tanah air (chaufinisme). Pada zaman nasionalisme itulah oendidikan sebagai ilmu mulai muncul. Zaman ini dikatakan sebagai kebangkitan Ilmu Pendidikan, sebab komponen-komponen ilmu itu mulai lengkap. Ilmu Pendidikan itu telah memisahkan diri secara sempurna dari induknya yaitu filsafat.
Sikun Pribadi (ISPI, 1989) menggambarkan hubungan filsafat, filsafat pendidikan, ilmu pendidikan, ilmu pendidikan praktis, perbuatan mendidik, pengalaman mendidik, dan keyakinan pendidik, sebagai berikut :
1.       Filsafat atau filsafat umum atau filsafat negara menjadisumber segala keinginan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga negara suatu bangsa.
2.       Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat pendidikan tidak boleh bertentangan dengan filsafat.
3.       Selanjutnya ilmu pendidikan (yang bersifat teoritis) ada di urutan ketiga, sebab ia dijabarkam dari filsafat pendidikan. Disinilah teori-teori pendidikan dirumuskan.
4.       Ilmu Pendidikan praktis adalah merupakan konsep-konsep pelaksanaan teori-teori pendidikan diatas. Jadi ini dijabarkan dari teori-teori pendidikan.
5.       Pad langkah berikutnya adalah perbuatan mendidik
6.       sebagai akibatnya dari perbuatan mendidik, ia akan mendapatkan pengalaman tentang mendidik.
7.       Pengalaman ini memberi umpan balik kepada teori pendidikan yang terdapat dalam ilmu pendidikan.
8.       Sebagai akibat dari revisi tadi, sangat mungkin ilmu pendidikan memberi umpan balik kepada filsafat pendidikan dan memungkinkan untuk merevisi konsep-konsepnya.
9.       Ilmu pendidikan juga mengadakan kontak hubungan dengan pengalaman-pengalaman mendidik, untuk selalu mengingatkan diri agar tidak menyimpang dari teori-teori mendidik.
10.   Sementara itu perbuatan-perbuatan mendidik bisa menimbulkan keyakinan tersendiri tentang pendidik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar