Jumat, 01 April 2011

KITAB-KITAB HADIST DRAJAT DAN SISTEM PENULISANNYA


KATA PENGANTAR

           Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat, taufik, dan inyah-Nyalah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dan yang merupakan tuntutan sebagai ajuan tugas kelomppok untuk mata kuliah Ilmu Hadist.
           Mengingat begitu pentingnya kegiatan belajar khususnya dalam mata akuliah Ilmu Hadist, tentunya penyusunan makalah “ kitab-kitab Hadist, derjat dan system penulisannya” ini tidak hanya didasarkan pada tuntutan tugas, namun juga diharapkan untuk bias sedikit memperlancar kegiatan belajar tersebut, hingga dalam tahapan-tahapannya kita bias memahami apa yang sedang kita pelajari, denganbaik dan benar.
           Namun demikian kami mennyadari betul bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, kepada para pembaca dan para ahli yang budiman, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan pembelajaran kami dan tahapan-tahapanya.
           Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, merupakan tanda pemghargaan kami yang tida taranya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.
           Semoga penyusunan makalah yang sangat sederhana ini bisa benar-benar bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Amin.

                                                                                    Bandung, 18 Desember 2008
                                                                                                                                                                                                                                    Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB 1    PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang.................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................ 2
1.3  Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
1.4  Sistematika Penulisan....................................................................... 3
BAB II   PEMBAHASAN
II.1  Katab-Kitab Hadist.......................................................................... 4
II.2 Latar Belakang Terjadinya Pengklasifikasian Derajat Hadist...... 9
II.3  Derajat-Derajat Hadist.................................................................... 9
II.4  Sistem Penulisan Hadist.................................................................. 30
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan...................................................................................... 37
III.2 Saran................................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
            Kedudukan manusia di dunia dalah sebagai hamba Allah, tugas utama hamba Allah adalah beribadah kepada-Nya. Ketika berbicara masalah serangkaian ibadah yang harus dilakukan manusia, secara tidak langsung akan berbicara msalah usaha mnusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika manusia berusaha untukmendekatkan diri kepada Allah diibaratkan seorang penjelajah yang membutuhkan peta sebagai petunjuk jalan agar tidak tersesat. Peta yang sempurna untuk memberi petunjuk  manusia mendekatkan diri kepada Allah adalah Al-Quran.dan Hadist.
            Namun perlu diketahui ketika hendak menjadikan sebuah hadist sebagai peta dalam mendekatkan diri kepada Allah, terlebih dahulu kita harus benar-benar mengerti hadist tersebut dari berbagai aspeknya. Bukan saja dari tahudan memahami maksudnya namuan lebih dari itu kita juga harus tahu kitab-kitab hadist, derajat dan sistem penulisannya, semua ini dimaksudkan agar kitahu dengan benar tentang hujjah atau ketapan dan cara mengamalkan hadist tersebut.
            Berdasarkan pernyataan diatas, maka dalam hal ini penulis mencoba mengangkat topik tersebut dalam sebuah makalah “ Kitab-kitab Hadist, Derajat dan Sistem Penulisannya ”. diharapkan sajianpembahasan dari makalh ini dapat sedikit memberiikan penjelasan pada pembaca tentang hadist.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Selesainya karya tulis ilmiyah ini pada dasarnya tidak terlepas dari rumusan-rumusan masalah yang disusun sebagai dasar dari alur pembahasan yang akan disajikan. Dimana dalam penyusunan makalah “ Kitab-kitab Hadist, derajat dan sistem penulisannya ”penulis telah menyususn secara sistematis rumusan-rumusan masalah yang akan disajikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Rumusan-rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Bagaimana klasifikasi dari Kitab-katab Hadist?
b.   Bagaimana klasifikasi dari Derajat-derajat  Hadist?
c.    Apa  yang melatarbelakangi terjadinya derajat-derajat Hadist
d.   Bagaimana sistem dari penulisan Hadist?

1.3 TUJUAN PENULISAN
           Setiap kegiatan yang dilandasi dengan niat baik pasti akan mempunyai sebuah tujuan yang hendak dicapainya, begitupun dengan apa yang penulis lakukan dalam penyusunan makalah ini, tidak sempurna rasanya jika penulisan makalah ini hanya dipandang sebagai kegiatan yang tak jelas arah tujuannya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
a.    Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Hadist.
b.   Memfasilitasi kegiatan belajar khususnya untuk mata kuliah Ilmu Hadist.
c.    Sebagai wahana untuk melatih kami dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang sempurna
d.   Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang kitab-kitab Hadist, Derajat dan Sistem penulisannya.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
           Dalam menyusun makalah ini penulis menyusun sub-sub yang ada didalamnya secara sistematis yaitu sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
              1.1 Latar Belakang
               1.2 Rumusan Masalah
              1.3  Tujuan Penulisan
BAB II : PEMBAHASAN
                2.1 Kitab-katab Hadist
                2.2 Derajat
                2.3 Sistem Penulisan Hadist.
BAB III : PENUTUP
                 3.1 Kesimpulan
                 3.2  Saran-saran.












BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi dari Katab-katab Hadist
Kitab-kitab Hadist  pada abad ke-3 hijriyah
1.            As-Sahih oleh Imam Muhamad bin Ismail al- Bukhari (194-256 H)
2.            As-Sahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj (204-261 H)
3.            As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidi  (209-279 H)
4.            As-sunah oleh Imam Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’at ( 202-275 H )
5.            As-Sunan oleh Imam Ahmad bi Sya’ab An-Nasai  (215-303 H)
6.            As-Sunan oleh Imam Abu Abu Ahmad Abdullah bin Abdurrahman ad   Damiri (181-255 H)
7.            As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah  (209-273H)
8.            Al-Musnad oleh Omam Ahmad bin Hanbal (164-241 H )
9.            Al-Muntaqa Al-Ahkam oleh Imam Abdul Hamid bin Jarud ( wafat 307 H)
10.        Al-Mushanaf oleh Imam Ibnu Abni Syadiyah (wafat 253 H )
11.        Al-Kitab oleh Imam Muhamad Syaid bin Mansur (wafat 227 H)
12.        Al-Mushanaf oleh Imam Muhamad Syaid bin Mansur (wafat 227 H)
13.        Tanzdibul Afsar  Imam Muhamad bin Jarir at-Thabari (wafat 310 H)
14.        Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurtubi (wafat 276H)
15.        Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih (wafat 276 H )
16.        Al-Musnad oleh Imam Ubaidillah bin Musa (wafat 213 H )
17.        Al-Musnad oleh Imam Ubaidallah bin Musa (wafat249 H )
18.        Al-Musnad oleh Imam Abu Ya’la (wafat 307 H )
19.        Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi Usamah al-Harits Ibnu Muhamad at-Tamimi (wafat282 H ) Al-Musnadul Kabir
20.        Al-Musnad oleh ImamIbnu Abi Ashim Ahmad bin Amr asy-Syaibani (wafat 287 H )
21.        Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi Amrin Muhamad bin Yahya Aladani (wafat 243 H )
22.        Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin al-Askari (wafat 282 H )
23.        Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu’aiban-Nasai (303 H )

  Kitab-kitab Hadist  pada abad ke-4 hijriyah
1.            Al-Mu’jam Kabir, ash-sagir dan Al-Ausath oleh imam Sulaiman bin Ahmad ath-Tabhrani (wafat 360 H )
2.            As-Sunan oleh Imam Darukutni (wafat 365 H )
3.            As-sahih oleh ImamAbu Hatim Muhamad bi Habban (wafat 354 H)
4.            As-sahih oleh ImamAbu Awanah Ya’qub bin Ishak (wafat 316 H )
5.            As-sahih oleh Imam Ibnu Hujaimah Muhammad bin Ishak (wafat 311 H )
6.            Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa’id bin ‘Usman Al-Baghdadi (wafat 353 H )
7.            Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh (wafat 340 H )
8.            Al- Mushannaf oleh Imam Thawi (wafat 321 H )
9.      Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhamad bin Ahmad (wafat 420 H )
10.   Al-Musnad  oleh Imam Muhamad bin Ishaq (wafat 313 H )
11.  Al-Musnad oleh Imam Imam Hawariizni wafat 425H )
12.   Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi(wafat 385 H )
13.  Al-Mustadrak ‘ ala- Shahihaini   oleh Imam Abu Abdullah bin Muhamad bin Abdullah bin Hakim an-Naisburi (3321-405 H )
Kitab-kitab Hadist yang Sahih
(Dr.Majid Khon,dkk : 153 ) Ibnu Shalah mengatakan bahwa kitab hadist yang palingShahih setelah Al-Quran adalah Shahih Bukhari dan Muslim. Padahal Imam Syafi’I pernah mengatakan bahwa yang paling shahih adalah kitabnya Malik “Al-Muwaththa”
(Dr.Majid Khon,dkk : 154 ) sementara urutan Kitab kitab hadist yang shahih versi Dr.Adil adalah Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Mustadrak Al-Hakim, Shahih Ibnu Hibban,Shahih Ibnu Khuzaemah.1 Sementara Hasbi Ash-Shidieqy meletakkan Shahih Ibnu Khuzaemah setelah Shahih Muslim, baru kemudian Shahih Ibnu Hibban. Karena Ibnu Khuzaemah dipandang lebih hati-hati disbanding Ibnu Hibban.
(Dr.Majid Khon,dkk : 154 ), kemudian tingkatan dibawahnya adalah Mustadrak Al-Hakim. Al-Hakim dipandang sebagai ahli hadist yang midah dalam menshahihkan hadist-hadist yang diterimanya.2 oleh karena itu para ulama memberikan komentar bahwa hadist-hadist shahih versi al-Hakim ini harus dibahas dan kemudian  ditetapkan terhadap hadist tersebut sebagai hadist hasil pembahasan. Karena Al-Hakim mengarang kitab tersebut dimasa Ia telah menginjak usia tua dan meninggal sebelum Ia sempat mengoreksi.  



Kitab-kitab Shahih selain Bukhari dan Muslim
(http://gameepermai.blogspot.com/2007/02/koleksi kitab-kitab hadist.html). Ada beberapa pendapat yang telah berusaha menghimpun hadist-hadist shasih sebagaimana ditempuh oleh Bukhari dan Muslim, akan tetapi menurut penyelidikan ahli-ahli hadist, ternyata kitab-kitab mereka tidak menyamai pada tingkat kualitas kitab-kitab Bukhari dan Muslim.
Para ulama yang menyusun kitab Shahih tersebut adalah:
a.                               Ibnu Huzaimah dalam kitab as-Sahih
b.      Abu ‘Awanah dalam Kitab as-Sahih
c.    Ibnu Hibban dalam Kitab at-Taksim Walarba
d.      Al-Hakim dalam Kitab al-Mustadrak
e. Ibnu Jarud dalam Kitab al-Muntaqa
f.       Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi dalam Kitab al-Muqtarah.
(http://gameepermai.blogspot.com/2007/02/koleksi kitab-kitab hadist.html). Menurut sebagian besar para ulama hadist, diantara kitab-kitab hadist ada 7 ( tujuh ) Kitab hadist yang dinilai terbaik yaitu :
a.       Ash-Shahih Bukhari
b.Ash-Shahih Muslim
c.       As-Sunan Abu-Dawud
d.      As-Sunan Nasai
e.       As-Sunan Tirmidzi
f.       As-Sunan Ibnu Majah
g.      Al—Musnad Imam Ahmad

( Mahmud Thahan :1997 ) Kitab-kitab populer dalam Ulumul Hadist  adalah sebagai berikut :
a.       Al-Muhaddis al-Fashil baina al-Rawi wa al-wa’I oleh al-Qadi Abu Muhamad al-Hasan bin Abdurrahman bin Chalad al-Ramaharmuzi (wafat 360 H )
b.      Ma’rifat Ulum al-Hadis oleh Abdullah Muhamadbin Abdul Hakim an-Naisyaburi (wafat 405 H )
c.       Al-Mustachraj ala ma’rifat ‘ulum al-Hadis oleh Abu Nu’em Ahmadbin Abdullah al-Asbahany  (wafat 430 H )
d.      Al- Kifayatu fi ilmi al-Riwayah oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Chatib al-Bhagdady (wafat 463 H )
e.       Al-Jami li al-Akhlaki al-Rawi li Adabi al-Sami’i
f.       Al-ilma’uila ma’rifati Usshul al-Riwayah wa Taqyidi al-Syima’I oleh Al-Qadli I’yadi bin Saushi al-Yahshuby (wafat 544 H )
g.      Ulumul al-Hadis oleh Abu Amru Utsman bin Abdurrahman al-Syahrazury yang dikenal dengan  “Ibnu Shalah “ (wafat 643 H )
h.      Al-Taqribwa al-Taisirli Ma’rifati Sunani al-Basyiral-Nadlir oleh Muhyidin Yahya bin Sya’rifu al-Nawawi (wafat 676 H )
i.        Tadribu al-Rawi fi Syarhi Taqrib al-Nawawi oleh Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Sayuti (wafat 911 H )
j.        Nadlmu al-Durar fie ilmi al-Atsar oleh Jainudin Abdurrahim bin Husain al-Iraqi (wafat  806 H )
k.      Fathu al-Mughits fie Syarhi alfiyah al-Hadis
l.        Nahbatu al-Fikar fie Musthalah ahli al-atsar.
m.    Al-Madlumatu al-Baiquniyah
n.      Qawaidu al-Tahdiits oleh Muhamad Jamaludin al-Qashimi(wafat 1332 H )
2.2 Latar Belakang Terjadinya Pengklasifikasian Derajat Hadist
Nabi Muhamad Saw, tinggal ditengah-tengah keluarga dan masyarakat, beliau sudah pasti bertemu dengan keluarga atau masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dalam berbagai kondisi dan berbagai kesempatan, baik secara individu maupun secara kelompok. Besar atau kecil, semua yang dikatakan Nabi dalam berbagai kesempatan ini adalah hadist.
(Kesimpulan hasil diskusi kelas dari berbagai pendapat: kamis 2008) Manusia adalah makhluk yang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Mereka yang mendengar sekecil apapun perkataan-perkataan Beliau  tersebut akan lain penyampaiannya ketika mereka menyampaikan lagi kerpada yang lain, dengan apa-apa  yang dkatakan Nabi  saat itu, sementara semasa Beliau masih hidup Beliau tidak pernah mengatakan bahwa perkataan nya ini adalah termasuk kedalam salah satu derajat-derajat seperti yang telah dibentuk oleh para ulama setelah Beliau wafat.. Karena  Beliau sudah wafat dan dikhawatirkn akan menimbulkan pemahaman yang berbeda akan makna perkataan yang disampaikan tersebut. Maka untuk  mengetahui validatas dari perkataan itu atau lebih tepatnya hadits-hadits tersebut, para ulam ahli hadist akan melihatnya dari berbagai sudut pandang, seperti dari perawinya, isnadnya dsb. Sehingga khalayak akan tahu apakah hadist tersebut benar adanya, lemah atau tidaknya, syah atau tudaknya, dan pantas untuk direkomendasikan atau tidak dan termasuk kedalam golongan apa hadist tersebut
2.3  Derajat-derajat Hadist
A.Qadir Hassan (1996:25). Hadist-hadist dan riwayat yang tercatat dalam kitab-kitab hadist dan sebaginya boleh dibagi dalam Tiga[1] derajat:
1.      Hadist shahih
2.      Hadist hasan
3.      Hadist dla’if

1)      Hadist Shahih
 (A.Qadir Hasan: 1996 )  Bagian-bagian dan cabang-cabang yang bercampur padanya yaitu yang berderajat :
a)      Shahih dan shahih hasan sahaja
b)      Shahih hasan dan dla’if bersama-samaAsh-shahih
Pembahasan hadist shahih
Hadist shahih itu, ada dua rupa:
1)      Shahih li dzatihi, dan
2)      Shahih li ghairihi
ü  “Shahih li dzatihi” artinya yang Syah karena dzatnya yakni  yang shahih dengan tidak bantuan keterangan lain.
Menurut istilah
“satu hadist sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang adil, dla-bith yang sempurna serta tidak ada syu-dzudz dan tidak ada ‘ilah yang sempurna”.
ü  Shahih li ghairihi artinya yang shahih karena yang lainnya, yaitu yang jadi sah karena di kuatkan dengan jalan(sanad) atau keterangan lain.
Shahih li ghairihi menurut keterangan ahli hadits ad macam-macam rupa yaitu:
a.       Hadits hasan li dzatihi, di kuatkan dengan jalan lain yang sama derajatnya.
b.      Hadist hasan li dzatihi, dibantu dengan beberapa sanad walaupun sanad berderajat rendah.
c.       Hadist hasan li dzatihi atau hadist lemah yang isinya setuju dengan salah satu ayat qur’an, atau yang cocok dengan salah satu dari pokok-pokok agama.
d.      Hadist yang tidak begitu kuat, tetepi diterma baik oleh ulam-ulama[2].
Berikut ini saya akan tunjukan keterangan dan contoh bagi tiap-tiap satu dari yang diatas tersebut:
Contoh A yang artinya:
   Bukhari berkata: ‘telah menceritaka kepada kam’i, Amr bin ali, ia bekata:’ telah menceritaka kepada kam’i, abu hutaibah, ia berkaat:’ telah menceritakan kepada kam’i, Abdurrahman bin abdillah bin dinar dari bapaknya, ia berkata: ‘aku pernah mendengar ibnu umar meniru syi’ir abi thalib[3]’.

Keterangan:
   Susunan sanadRiwayat diatas, kalau kita atur, menjadi begini:
1)                  Bukhari
2)                  ‘Amr Bin ‘Ali
3)                  Abu Qutaibah
4)                  ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin dinar
5)                  Bapaknya (yaitu ‘Abdullah bin Dinar)
6)                  Ibnu 'Umar
Sanad Riwayat ini, bersambung dari No. 1 sampai No. 6 dan rawinya orang-orang kepercayaan dengan sempurna, hanya ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Dinar (No. 5)[4] sahaja derajatnya ada kurang sedikit dari yang lain-lain, tetapi tidak lemah.
            Maka martabat sanad yang begini rupanya, dianamakan Hasan li dzatihi.
            Riwayat tersebut ada juga diceritakan oleh Imam Ibnu Majah dalam kitab Hadisnya[5]. Susunannya begini:
1)                  Ibnu Majah
2)                  Ahmad bin al-Azhar
3)                  Abun-Nadlr
4)                  Abu ‘Aqil
5)                  ‘Umar bin Hamzah
6)                  Salim
7)                  Bapaknya (yaitu Ibnu ‘Umar)
Ringkasannya: Hasan li dzatihi riwayat Ibnu Majah sama derajatnya dengan Hasan li dzatihi riwayat Bukhari. Dua sanad tersebut menunjukan, bahwa Hasan li dzatihi dari riwayat Bukhari dikuatkan dengan dengan hasan li dzatihi adari riwayat Ibnu Majah.
Yang begini rupanya, dinamakan “Shahih Li Ghairihi”

 Contoh B yang artinya:
            (kata turmudzi): telah menceritakan kepada Muhammad bin Basysyar, (ia berkata): telah menceritakan kepada kami, ‘Abdurrahman, (ia berkata): telah menceritakan kepada kami, Sufyan, dari ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dari Mihammad bin al-Hanafah, dari ‘Ali, dari Nabi SAW. Beliau bersabda : “pembuka shalat itu, ialah dersuci, da yang memasukkan (seseorang) kedalam shalat, adalah takbir; dan yang mengeluarkan (seseorang) dari shalat itu, ialah Salam”.[6]


Susunan sanadnya:
1)      Turmudzi
2)      Muahammad bin Basy-syar
3)      ‘Abdurrahman
4)      Sufyan
5)      ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil
6)      Muhammad bin al-Hanafiah
7)      ‘Ali
8)      Nabi Muhammad SAW
Keterangan:
Rawi-rawi yang ada dia dalam sanad ini semua orang0orang kepercayaan, melainkan ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil saja, walaupun ia seseorang yang benar, tetapi tentang hafalannya-kuat tidaknya-masih dalam perselisihan , yakni di antara ‘Ulama ada yang menganggap hafalannya tidak kuat, dan ada yang menganggap kuat[7].
Oleh karena itu riwayat ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil ini dianggap Hasan Li Dzatihi.

Contoh C:
 Diriwayatkan dari ‘Aisyah, Bahwa Rasulullah SAW, yang artinya:
Berlaku bersihlah kamu, karena sesungguhnya islam itu bersih (Ibnu Hibban)[8]
Keterangan:
Hadist ini lemah, karena dalam sanadnya ada seorang rawi bernama Rauh al-‘Ambari, dia suka merwayatkan hal-hal yang ajaib dengan nama orang-orang kepercayaan. Riwayat nya tidak diterima.
Contoh D yang artinya:
Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.

Keterangan:
Hadist tersebut ada diriwayatkan oleh abu daud, turmudzi nasai, ibnu Majah, Ahmad, Ibnu khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, Daraquthni, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan lainnya, dari sahabat-sahabat Anas, Jbir, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas,Ibnu Firasi, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Abu bakar dan ‘Abdullah bin ‘Amr[9]. Tetapi dalam semua sanadnya ada rawi yang tercela dan ada yang diperselisihkan.
Martabat rawi-rawi shahih
Untuk menetapkan seorang rwi masuk bagian shahih li dzatihi,perlu kita memeriksa catatan perjalanan mereka keadaan mereka dalam kitab-kitab rijalul hadits.[10]


Martabat yang pertama:
Rawi-rawi yang bersifat dengan salah satu dari sifat-sifat yang tersebut dibawah ini dan yang seumpamanya,dianggap dia masuk martabat yang pertama, yaitu yang tertinggi:
Yang artinya:si fulan orang yang sangat kepercayaan tentang hafalan dan keadilannya.
Untuk martabat ini di gunakan lafazh yang mengandung arti “sangat”,”lebih”dan seumpamanya.
Martabat kedua:
Rawi-rawi yang bersifat dengan salah satu dari sifat-sifat yang tersebut dibawah ini, atau dengan yang seumpamanya teranggap derajat martabat yang kedua; lebih rendah dari martabt yang pertama:
Si fulan orang yang kepercayaan, orang yang kepercayaan.
Untuk martabat ini umumnya dipakai lafazh-lafazh yang berulang.
Martabat yang ketiga:
Rawi-rawi yang bersifat dengan salah satu dari sifat yang tertera  dibawah ini, atau yang seumpamanya, termasuk martabat ketiga; lebih rendah dari martabat kedua:
Si fulan kepercayaan.
Untuk martabat ini tidak digunakan lafzh-lafazh yang berulang.
Mutawatir
Mutawatir yang artinya yang berturut-turut, yang beriring-iring.dalam ilmu hadits maksudnya ialah:
“hadist yang diriwayatkan dengan banyak sanad yang berlainan rawi-rawinya, serta pada adat mustahil mereka dapat berkumpul jadi satu, untuk berdusta mengadakan hadist itu.”


Hadist mutawatir itu dibagi menjadi dua yaitu:
Mutawatir lafzhi, dan
Mutawatir ma’nawi.
Mutawatir lafzhi
Lafzhi yang artinya secara lafazh
Jadi mutawatir lafzhi itu ialah mutawatir yang lafazh-lafazh.haditsnya sama atau hamper bersamaan.[11]
Contohnya:
Seperti sabda rasulullah saw yang artinya kurang lebih “barang siapa berdusta atas nama ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari neraka.
Mutawatir ma’nawi
Ma’nawi artinya secara ma’na.
Mutawatir ma’nawi ialah mutawatir pada makna yaitu beberapa riwayat yang berlainan,mengandung satu hal atau satu isfat atau satu perbuatan. Ringkasnya, beberapa cerita yang tidak sama, tetapi berisi satu makna atau tujuan.
Contohnya:
Seperti shalat magrib 3 rakaat.
Martabat hadits shahih
Martabat hadits shahih di bagi tiga:
-Ada yang berhubungan dengan rawi
-Ada yang berhubungan dengan isnad dan
-Ada yang berhubungan dengan matan
Di bawah ini saya unjukan stu-satu macam itu, bersana contohmya:
Martabat rawi
Rawi-rawi bagi hadits shahih ,sebagaimana tersebut di pasal sifat-sifat rawi mempunyai tiga martabat.
Untuk menetapkan termasuknya seseorang rawi  dalam satu-satu martabat, cukup kita perhatikan kepada sifat yang disebutkan ulama untuk masing-masing rawi.

Martabat sanad
( A.Qadir Hasan: 1996  )Martabat sanad ini sebenarnya bergantung pada rawi-rawi kalau rawi-rawinya tinggi, tentu sanadnya pun ikut tinggi.demikian juga kalau rawi-rawinya bermartabat rendah atau pertengahan.
Oleh karena itu martabat bagi sanad hadits shahih juga boleh dibagi kepada tiga derajat yaitu:
1.      ‘ul ya (yang tinggi)
2.      Whustha (yang pertengahan)
3.      Dunya (yang rendah)
Derajat ‘ulya
   Sanad yang bermartabat ulya ini ada banyak diantaranya:
a.       Yang diriwayatkan dari jalan :imam malik ,dan nafi’ dari ibnu umar.
b.      Yang diriwayatkan dari jalan :hisyam bin urwah dari urwah, dari aisyah.
c.       Yang diriwayatkan dari jalan :Sufyan bin uyainah dari amr bin dinar, dari jabir.
Derajat wushta
Sanad b bagian wushta ini banyak terdapat, sebagiannya
a.       Yang diriwayatkan dari jalan: buraid bin abdillah bin abi buradah, dari abdullah dari abi buradah, dari abi musa.
b.      Yang diriwayatkan dari jalan: hamad bin salamah, dari stabit dan anas.[12]
Mereka termasuk pertengahan karana derajatnya di bawah ‘ulya.
Derajat Dun-ya
   Sanad yang bermartabat dun-ya ini pun tidak kurang banyaknya[13] sebagian dari padanya ialah:
a.       Yang diriwayatkan dari jalan: Suhail bin abi Shalih dari bapaknya (Abi Shalih), dari Abi Hurairah[14]
b.      Yang diriwayatkan dari jalan: Al ‘Ala Bin Abdirahman dari bapaknya (Abdurahman), dari Abi Abdurahman[15]
Mereka ini derajat hafalan dan ketelitiyannya kurang dari martabat ‘ulya dan wus-tho. Karena itu, di masukan dalam bagian yang paling rendah dari sifat-sifat shahih
                                                Martabat matan
Karena melihat ketelitian seseorang mukharij dalam memeriksa sifat-sifat dan keadaan masing-masing rawiterdapatlah beberapa tingkatan martabat bagi matan hadits-hadits shahih
Martabat pertama:Hadits atau matan yang diriwayatkan oleh imam bukhori, Abu Dawud, Turmudzi, Nas-i,dan ibnu majah.[16]
Martabat kedua: hadits yang hanya diriwayatkan oleh bukhori dan muslim bersama-sama. Yang biasa disebut mutafaqun ‘alih:yang disetujui.
Martabat ketiga: hadits yang hanya diriwayatkan oleh bukhori saja.
Martabat keempat: hadits yang hanya diriwayatkan oleh muslim saja.
Martabat kelima: hadits yang hanya diriwayatkan oleh ahli hadits lain menurut syarat Bukhori dan muslim.
Martabat keenam: hadits yang hanya diriwayatkan oleh ahli hadits lain menurut syarat Bukhori saja.
Martabat ketujuh: hadits yang hanya diriwayatkan oleh ahli hadits lain menurut syarat muslim saja.
Martabat kedelapan: hadits yang disahkan oleh imam-imam selain bkhori muslim.
                                                Hadits dlaif jadi pembatas
Ada beberapa ayat Qur’an dan Hadits yang isinya kelihatan tidak terbatas, padahal ia mesti mempunyai batas.
Jika kita mencari pembatas-pembatasnya dalam hadits shahih boleh dikatakan hamper tidak ada, tetapi terdapat dalam hadits-hadits lemah.
Oleh karena itu di beberapa pasal, hadits yang tidak sangat lemah boleh dijadikan sebagai pembatas bagi sesuatu masalah yang mesti memepunyai batasan.
Contoh pada surat al anfal ayat 11 yang berbunyi: Dan ia menurunkan atas kamu air dari langit , karena ia hendak mensucikan kamu dengannya.
Dan begitu pula sabda rasul yang artinya: Sesungguhnya air itu pembersih, tidak ada satu pun yang menajiskannya(turmudzi[17] dan lainnya)
Firman Allah dan hadits tersebut member bahwa air hujan, air laut, air sungai, dan sebagainya bias untuk sesuci walaupun airnya sedikit maupun banyak.
                        Ma’na
‘Ala syar-thisy-syaikhain
(A.Qadir Hasan :1996 ) ‘ala artinya: atas atau menurut.
Syaikhain : dua syeh yaitu bukhori dan muslim.
‘Ala syar-thisy-syaikhain artinya menurut syarat bukhori dan muslim
Apabila rawi-rawi dari sanad hadits-hadits imam bukhori dan muslim terdapat dalam satu sanad hadits yang diriwayatkan oleh seorang ahli hadits lain serta haditsnya pun sah maka derajat hadits itupun dikatakan: ‘Ala syar-thisy-syaikhain
Ma’na
   ‘Ala Syar-thil-bukhori
‘Ala Syar-thilBukhori artinya menurut syarat bukhori .
Kalau rawi-rawi yang dipakai bukhori, terdapat dalam satu sanad Hadits yang diriwayatkan oleh ahli hadits lain serta hadits itu sah, maka derajatny disebut ‘Ala Syarthil-Bukhori.
                        Ma’na                         
Ala syarti muslim
Ala syarti muslim artinya:menurut riwayat muslim.
Di waktu rawi-rawimuslim, terdapat dalam satu sanad Hadits yang diriwayatkan oleh ahli hadits lain serta hadits itu sah, maka derajatnya dikatakan :menurut syarat muslim ,kalau hadits nya shahih.
Isnad shahih
Dalam kitab sering kali mendengar kata-kata
a. Isnadun shahihun: Sanadnya shahih
b.Shahihul Isnad: Sanadnya sah
c. Bi isnadin shahihin: Dengan sanad yang syah
Perkataan-perkataan tersebut hendak menunjukan, bahwa hadits atau riwayat yang diterangkan disitu sanadnya sah, yakni rawi-rawi sanad itu kepercayaan atau boleh dipercaya.
Rijaluhu rijalush shahih
(A.Qadir Hasan) Ucapan itu artinya : rawi-rawinya, rawi-rawi shahih, yakni rawi-rawi bukhari.
Satu sanad hadits atau riwayat, kalau dikatakan: “Rijaluhu rijalush shahih”, maksudnya, bahwa rawi-rawi yang ada dalam sanad itu semua bagi rawi-rawi bukhari.
Ruwatuhu Tsi-qat
Banyak juga terdapaqt perkataan-perkataan:
1. Ruwatuhu Tsi-qat: Rawi-rawinya kepercayaan
2. Rijaluhu tsiqat : Rawi-rawinya orang kepercayaan
3. Rijaluhu muwats tsaqun : Rawi-rawinya dianggap kepercayaan
Ruwatuhu Tsi-qatdan Rijaluhu tsiqat berbeda dengan Rijaluhu muwats tsaqun
Ruwatuhu ( Rijaluhu )tsiqat itu menunjukan bahwa rawi-rawinya itu dari asal sudah kepercayaan, seperti:
1.      Hammad bin Salamah,
2.      Hisyam bin Urwah,
3.      Muhammad bin Katsir,
4.      ‘Ikrimah,
5.      ‘Abdul A’la
6.Dan semua rawi dari Bukhori dan Muslim
Adapun Rijaluhu Muwats tsaqun itu menunjukan kepada rawi-rawi yang tidak begitu terang sifat kepercayaannya, sehingga diperselisihkan oleh ulama tetap dengan beberapa alasan, di anggap atau dimasukan mereka dalam golongan rawi-rawi kepercayaan seperti:
a.       Abdullah bin Wahb bin Muslim
b.      Makramah bin bukhair bin abdillah.
Maka hadits yang dikatakan “Ruwatuhu ( Rijaluhu )tsiqat” dan “Rijaluhu muwats tsaqun” itu kedudukannya hampir sama dengan isnadhuhu shahih.
2)      Hadist Hasan
   Al-Khattabi (w.388 H )1 memeberikan pengertian hadist Hasan sebgai berikut :
            Hadist hasan juga ada dua macam:
 Hadist Hasan yaitu hadist yang diketahui mkhrajnya2
Hasan menurut bahasa, artinya: yang baik, yang bagus.
Li dzatihi artinya: karena dzatnya atau dirinya.
ü    “hasan li dzatihi” menurut istilah. Ialah:
Satu hadist yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang adil tetapi ada yang kurangdlabith, serta tidak ada syudzudz dan ‘illlah’.[18]
Contoh hadis yang artinya:
           (kata turnudzy:[19]) telah mencritakan kepada kami, abu kuraib, telah menceritakan kepada kami, ‘Abdi bin Sulaiman, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abi salamah, dari Abi Hurairah, ia berkata: telah bersabbda Rasulullah SAW: “jika aku tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintah mereka bersuci di waku tiap-tiap hendak sholat”. ( Bukhari 1:38)
Sanad hadist ini, jika kita gambarkan, akan menjadi begini:
1)      Turmudzi
2)      Abu Kuraib
3)      ‘Abdah bin Sulaiman
4)      Muhammad bin ‘Amr
5)      Abi Salamah
6)      Abu HUrairah
7)      Rasulullah SAW
   Keterangan :
1)      Kalau diperiksa sanad ini dari Turmudzi sampai kepada Nabi, kita akan dapatinya bersambung, yakni tiap=tiapseorang mendengar atau mendapat khabar langsung dari yang lain.
2)      Rwi-Rawi dari No.1 sampai No.6, semua ‘adil dan dlabith, melainkan      Muhammad bin ‘Amr seorang yang adil tetapi kedlabithannya kurang, karena lemah hafalannya.[20]
3)      Hadist tersebut tidak ada syudzudz dan tidak pula ada ‘illahnya.
 
ü Hasan Li Ghairihi
Li ghairihi artinya: karena yang lainnya, yakni satu hadist menjadi hasan karena di bantu dari jalan lain.
Hasan Li Ghairihi menurut istilah, ialah:
“Satu hadist yang dalam sanadnya ada: Rawi Mastur[21] atau rawi yang kurang kuat hafalannya, atau rawi yang tecampur hafalannya karena tuannya, atau rawi mudallis [22] atau rawi yang pernah keliru dalam meriwayatkan , atau rawi yang pernah salah dalam meriwayatkan, lalu dikuatkan dengan jalan lain yang sebanding dengannya”.[23]
Martabat-martabat Rawi-rawi Hasan
Martabat Peratama
Seorang rawi, apabila disifatkan dalam salah satu sebutan di bawah ini dan dengan seumpamanya, teranggaplah ia masuk martabat yang pertama:
a.             Yang sangat pintar
b.            Yang dipercayai
c.             Tidak ada halangan terhadap dia
d.            Ia sebaik-baik manusia
Martabat yang kedua
Sifat-sifatnya yaitu diabawah ini:
a.             Yang baik Hadistnya
b.             Yang boleh dipakai Hadistnya
c.             Yang Bagus Hadistnya
d.            Tempatnya adalah kebenaran
Martabat yang ketiga
Sifat –Sifatnya rawinya sebagai berikut:
a.             Insya Allah ia seorang yang benar
b.            Aku harap tidak ada halanganapa-apa terhadap dirinya
c.             Sifulan seorang yangsedikit boleh dipakai hadistnya
d.            Yang diterima hadistnya
Martabat Hadist Hasan
Hadist hasan juga berderajat seperti martbat hadist shahih Yaitu:
1)      Ada yang berhubungan dengan rawi-rawi,
2)      Ada yang berhubungan dengan sanad
3)      Ada yng berhubungan dengan matan
1.   Martabat Rawi
Rawi-rawi hadist hasan mempunyai tiga martabat sebagaimana yang tersebut dipasal Sifat=Sifat Rawi sebelum ini.
Dari situlah dapat berbeda-beda seorang rawi masuk martabat yang pertama, kedua ataupun yang ketiga.
2.   Martabat sanad
Martabat sanad bagi hadist hasan-pun bergantung kepada derajat=derajat rawi. Karena itu, dapat dibagi tiga derajat:
1)      Yang tinggi (‘Ulya)
2)      Yang pertengahan (wushtha), dan
3)      Yang rendah (dunya)
1.   Martabat matan
Menurut pendapat Imam Suyuthi[24], kitab-kitab yang banyak mengandung hadist hasan, adalah:
1)      Suna Abi Dawud
2)      Sunan at-Turmudzi
3)      Suna ibni Majah
4)      Sunan an-Nasai
5)      Sunan Daruquthni
           Isnad Hasan
           Ada kalanya, Dalam kitab-kitab terdapat ucapan-ucapan:
a.       Isnaduhu Hasanun        artinya : sanadnya hasan
b.      Isnadun Hasanun          artinya: sanad yang hasan
c.       Hasanul Isnad Yang  artinya: Yang Hasan Sanadkan

3)            Hadist Dla’if
Dlaif artinya: lemah. Hadits dlaif itu ada dua tingkatan:
Yang pertama  : dlaif yang sangat lemah
Yang kedua     : dlaif yang tidak terlalu lemah
Dalam dua tingkatan ini terdapat dua macam keadaan yang menyebabkan sesuatu hadits itu lemah, yaitu:
Ø    Putusnya sanad
Ø    Tercatat seorang rawi atau beberapa rawinya.
1.      Yang putus sanadnya
Hadits yang teranggap lemah karena putus (gugur, tidak tersebut) sanadnya itu ada 9 macam, dan masing-masing mempunyai nama tersendiri, sebagai berikut:
a. Al-Muallaq
b.Al-Mu’dlal
c. Al –Munqathi
d.      Al-Mudalas
e. Al-Mursal
f. Al-Mursal Jali
g.Al-Mursal Khafi
h.Al-Muannan
i.  Al-Mu’an’an
Al-Mu’allaq

Muallaq artinya yang digantungkan, yang tergantung. Arti yang ditujukan oleh istilah ilmu hadits ialah
“Hadits yang dari permulaan sanadnyya gugur seorang rawi atau lebih dengan berturut-turut”.

Contohnya:
“Berkata Abu Isa . dan sesungguhnya  telah diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi Saw beliau bersabda: Barang siapa shalat sesudah maghrib duapuluh rakaat Allah akan mendirikan baginya sebuah rumah di surga.”
Gambaran sanadnya: 1) Abu Isa  (=Turmudzi).   b) Aisyah   c) Rasulullah
Setiap hadits muallaq hukumnya lemah, tidak boleh dipakai.
Di dalam kitab Bukhari terdapat 1341 Hadits Mu’allaq. Dalam Shahih Muslim ada sedikit
Mu’dlal artinya: tempat memberatkan atau tempat melemahkan .
Menurut istilah,ialah:
“Hadits yang tengah sanadnya gugur dua rawi atau lebih dengan berturut-turut”





Al-Munqathi
Munqathi’ artinya: yang terputus.
Menurut ketetapan ahli hadits, ditujukan kepada:
“Satu Hadits yang di tengah sanadnya gugur seorang rawi atau beberapa rawi, tetapi tidak berturut-turut”.
Contoh gugur seorang rawi
Seperti sebuah hadist berikut yang artinya :
“berakata Ahmad bin Syuaib: )1 telah mengkhabarkan kepada kami. Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami. Abu ‘Awanah telah mencritakan kepada kami, Hisyam bin Urwah, dari Fatimah binti Mundzir, dari ummi Salamah, ummil Mu’minin, Ia berkata: telah bersabda Rasulullah Saw: ‘Tidak menjadikan haram bagi penyusuan,melainkan apa-apa yang sampai di pencernaan dari susu dan adalah(= teranggap hal ini )sebelum( anak ) berhenti dari minum susu.
Keterangan:
1. Sanad hadist ini, kalau kita gambarkan, akan tampak demikian :
·   Ahmad bin Syu’aib,
·   Qutaiban bin Sa’id,Abu ‘Awanah,
·   Fatimah bintil Mudzir,
·   Ummu Salamah,
·   Rasulullah Saw.
2. hadist Muqathi hukumnya lemah, yakni tidak boleh dapakai atau dijadikan       hujjah dalam agama kita.
1. ahmad bin Syu’aib;Imam Nasa’i

Al-Mudallas
(A. qadir Hasan :1996 ), Mudallas menurut bahasa, artinya:yang ditutup, atau yang disamarkan.
Hadits mudallas ini ada dua macam:
1.      mudallas Isnad:
mudallas isnad itu adalah
“suatu hadist yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang Ia temui atau semasa dengannya, tetapi Ia tidak mendengar Hadist yang diriwayatkannya itu dari padanya, sedang ia meragu-ragukan, seolah ia mndengar hidist itu dari apadanya.”1)
2.      Mudallas Syuyukh
Syukuh itu jama 2)dari kata-kata Syaikh.
Syaikh artinya :guru atau rawi
Mudallas Syuyukh tadlis tentang rawi-rawi.
Dalam ilmu hadist dikatakan :
“suatu hadist yang didalam sanadnya, sirawi menyebut Syaikh yang Ia dengar dari padanyadengan sifatnya yang tidak terkenal.”3)




1. Taudlihaul Afkar 1:350 dan syarah Alfiyah Suyuti
2. kata yang menunjukan lebih dari dua
3. Syarah Alfitah Suyuti

2.4 Sistem Penulisan Kitab-Kitab Hadist.
         ( Nurudin : 219 ) Diantara hal-hal penting yang dapat menentukan keshahihan suatu naskah, dan kemudian bisa dimanfaatkan, adalah sebagai berikut:
·         Para penulis hadist wajib mencurahkan seluruh perhatiannya untuk memantapkan hadist yang mereka tulis atau yang mereka dapatkan dari tulisan orang lain  sesuai dengan keadaan ketika hadist itu diriwayatka, baik yang berkenaan dengan syakal-nya maupun titik-titiknya, atau tidak terjadi kekeliruan.
·         Para ulama menganjurkan agar lafal-lafal yang bersyakal hendaknya diberi keterangan cara membacanya berkali-kali. Yakni lafal tersebut ditulis dengan kterangan cara membacany dalam matan, lalu ditulis pula pad catatan kakinya, dilengkapi dengan keterangan cara membcanya pula. Seringkali kat dapatkan para ulama menulis keterangan itu.dengan ditmbah kata بيا ن (keterangan), agar keterangan itu tidak dianggap sebagai kelanjutan kalimat.
·         Semestinya shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw. Ketikamenulis namanya, karena penuliosan shalawat dan salam ituamat besar faedahnya, dan dalam waktu yang relative singkat dapt dirasakan oleh para penulis . barangsiapa mengabaikannya, tidak akan mendapatkan keuntungan yang besar dan ia termasuk salah seorang yang kikir dan ia pantas dijauhkan dari keuntungan.
Penulis hendaknyamenghindari penulisan shalawat dan salam dengan kedua cara berikut.
·         Menulisnya dengan lambing ص atau   صلعمdsb.
·         Hanya menuliskan shalawatnya saja tanpa menuliskan salam, atau    sebaliknya.
·         Penulis hendaknya membandingkan kitabnya dengan kitab asli yang didengar gurunya atu dengan naskah guru yang diriwayatkan kepadanya, meskipun cara periwayatannya dengan cara ijazah. Tidak halal bagi seorang muslim menyampaikan riwayat sebelum dibandingkan dengan kitab asli gurunya atau dengan naskah yang telah dabandingkan dengan kitab aslinya.
Istilah-istilah dalam Penulisan Hadist
(Nuruddin ITR:221)Dengan mengungkap istilah-istilah penting yang menunjang penggunaan manuskrip-manuskrip kitab hadis dengan baik serta pengambilan hadisnya dengan selamat, diantanya  sebagai berikut:
*      Memeberi tanda-tanda baca huruf-huruf yang tidak bertitik. Kebanyakan ulama menandai huruf-huruf yang tidak bertitik dengan memeberi tanda yang menunjukan bahwa huruf-huruf tersebut tidak bertitik. Yakni memindahkan titik-titik yang berada diatas huruf-huruf bertitik kebawah huruf-huruf yang tidak bertitik yang tidak menyerupainya. Seperti ra, shad, tha, mereka diberi tanda dibawahnya.
*      Lingkaran pemisah antar dua hadist. Atau antar dua alinea. Yaitu sebagai tanda yang mereka buat untuk memisahkan dan membedakan antara dua hadist.
*      Al-takri; yakni menuliskan sesuatu yang tidak termuatdalam suatu kitab, dan ditulis dibagian pinggir kitab tersebut. Bentuknya adalah membuat garis dari tempat bagian yang tidak termuat itukeatas lalu dibelokan kearah pinggir halaman yang bersangkutan, sehingga tertulis  demikian             atau
*      Al-hawasyi; yakni kalimat yang ditulis dipinggir halaman atau dibawahnya, yang berupa catatan, penafsiran atau perbedaan cara baca.
*      Al-tashih; menuliskan lafal        diatas suatu kalimatatau disampingnya. Hal ini dilakukan ketika kalimat tersebut lafal dan maknanya shahih, agar diketahui bahwa kalimat tersebut tidak diabaikan dan telah diperbaiki serta dibetulkan.
*      Al-tadhbibi; disebut pula dengan al-tamridh. Sasarannya adalah kalimat yang kedatangan dan periwayatannya shahih, namun rusak lapal, maknanya, atau dha’if ; atau kurang sehingga kalimat tersebut tidak dapat dibenarkan dari segi bahasa Arab atau janggal dsb.

Para Imam Syi’ah dan Penulisan serta Penyampaian Hadis
 (http://tadwin Al-hadis.blogspot.com/2007/02/.html) Dalam bagian ini, kami bermaksud membicarakan secara singkat pandangan Syi’ah mengenai hadis sejak permulaan. Nanti akan terlihat bahwa pandangan Syi’ah akan berbeda, atau bahkan bertentangan, dengan pandangan lainnya. Para Imam Syi’ah memerintahkan penulisan hadis pada saat tokoh ulama Sunni ternama, yaitu menjelang abad 3/9, enggan menuliskan hadis. Dan kalaupun mereka menuliskannya, maka hal itu hanya untuk membantu hapalan saja. Barulah setelah penulisan itu menjadi merata, mereka pun mulai melakukan usaha penulisan hadis dengan melanggar tradisi yang dirawikan oleh mereka sendiri yang melarang penulisan hadis.
‘Alba ibn Al-‘Ahmar meriwayatkan bahwa suatu ketika Ali ibn Abi Thalib dalam khutbahnya yang disampaikan dari mimbar menyatakan: "Siapa yang membeli pengetahuan dengan sedirham?" Al-Harits ibn Al-A’war membeli kertas seharga satu dirham lalu datang ke pada Ali dan menulis sejumlah besar pengetahuan di kertas tersebut. Tradisi ini menunjukan penekanan Imam tentang penulisan.
Al-Hasan ibn Ali diriwayatkan pernah menasehati putranya sebagai berikut:
Sekarang kamu putra ummat yang akan menjadi pemukanya di masa depan. Pelajarilah ilmu; dan siapapun di antara kamu yang tak sanggup menghapal ilmu (yaitu hadis), catalah dan peliharalah hadis itu di rumahmu.1)
Diriwayatkan bahwa Hujr ibn Adi, salah seorang di antara sahabat Nabi saw. dan Ali menuliskan hadis Ali dalam sebuah buku dan ia akan merujuk pada buku tersebut kapan pun ia butuhkan sebagi petunjuk dalam hubungannya dengan masalah tertentu. Contoh-contoh ini mengetengahkan betapa pentingnya penulisan hadis dalam pandangan Ali, para putra dan sahabatnya. Berikut ini dua contoh yang menunjukkan pentingnya apa yang dilakukan oleh Ali terhadap hadis dan pemeliharaannya.
1) Bihar Al-Anwar,vol. 2, hal.152;Al-Taratib Al-Dariyyah,vol. 2, hal. 246; Sunan Al-Darimi, vol. 1, hal.130; ‘Illal Al-Hadith,vol. 2, hal. 438; Taqyid Al-‘Ilm, hal. 91; Jami’ Bayan Al-‘Ilm,vol. 1, hal. 99; Kanz Al-‘ummal, vol. 1, hal. 193; Rabi’Al-Abrar, vol. 3, hal. 326; Tarjumat Al-‘Imam al-Hasan dlmTarikh Dimasyq,
‘Umar ibn ‘Ali meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Ali bagaimana ia mampu meriwayatkan lebih banyak hadis Nabi jika dibandingkan dengan para sahabat lainnya. Ali menjawab:"Ini karena setiap aku bertanya, Nabi saw. selalu menjawabnya. Dan jika aku diam, ia sendiri yang akan mulai berpidato."
‘Ali ibn Hawshab meriwayatkan dari Makhul, seorang alim dari Syiria bahwa Nabi Suci saw. membaca ayat: "Dan agar diterimanya melalui telinga yang suka menerimanya." (QS 69 : 12). Lalu beliau berkata kepada Ali:"Aku memohon kepada Allah agar telinga demikian itu merupakan telingamu." Dan kemudian Ali berkata:"Aku tak akan pernah melupakan hadis atau apapun yang kudengar dari Nabi saw."
‘Umar ibn Al-Harits berkata:
Suatu saat Ali menengadahkan wajahnya ke langit, lalu menundukkannya seraya berkata:’Allah dan Rasulnya telah mengatakan kebenaran. ‘Apakah itu?’ tanya sekelompok orang yang ingin mengetahuinya. Imam lalu berkata:’Aku adalah prajurit, dan perang mengandung tipuan. Tapi seandainya aku jatuh dari langit, lalu dicengkeram oleh burung, maka itu lebih aku senangi dari pada menisbahkan suatu kepalsuan atau kebohongan kepada Rasul Allah. Karena itu, laksanakan apapun yang kamu dengar dariku.
Berbagai pernyataan tentang penulisan hadis juga diriwayatkan dari para Imam yang lain.Al-Imam ash-Shadiq berkata :"Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, maka anak –anakmu akan mewarisi kitab –kitabmu.kelak,akan tibasuatu masa yang didalamnya terjadi kekaacuan dan orang-oraang tk lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku. Imam Al-shadiq juga telah menyatakan:peliharalah buku –bukumu,karena suatu saat kalian akan membutuhkannya."juga beliau diriwayatkan telah berkata bahwa kekuatan jiwa dan ingatan bergantung pada tulisan. Abu Basir meriwayatkan bahwa Imam Al shadiq berkata kepadnya:"Sejumlah orang yang datang dari basrah bertanya kepadaku tentang beberapa hadits, lalu menuliskannya.kenapa anda tidak menuliskannya juga?kemudian menambahkan:kethuilah bahwa anda tidak akan menjaga hadis tanpa menuliskannya."Sejumlah tradusi besar menunjukkan bahwa para Imam mempunyai buku buku dan tulisan tulisan yang mereka warisi dari para leluhurnya. Dalam tradisi lain, diriwayatkan bahwa Ali pernah membuat pernyataan "ikatlah ilmu"(lewat penulisan), yang diulangnya sampai dua kali. Telah diriwayatkandari jabir bahwaAbu Hanifah memanggil Imam Al-Shadiq dengan kutubi(kutu buku ),sehubungan dengan kepercayaannya kepada buku- buku,dan Imam bangga dengan julukan itu.
Diriwayyatkanjuga bahwa Imam Al-Muhammad ibn Ali Al-baqir mencatat suatu hadis Nabi yang dirawikan oleh jabir ibn Abdullah Al-Anshari. Meskipun pernyataan ini agaknya keliru,sebab jabir wafat ketika Imam berusaha lima tahun,tapi mungkin saja bahwa tradisi tersebut telah menulis melalui perantara.
Syi’ah dan Penulisan Hadis
(http://tadwin Al-hadis.blogspot.com/2007/02/.html) Karena tradisi penulisan hadis sudah ada di kalangan Syi’ah sejak permulaan, maka mereka pelopor tradisi tertulis dalam hadis dan fikih. Dr. Syawqi Dayf menulis:
Perhatian Syi’ah terhadap penulisan fikih sangatlah kuat. Alasan dibaliknya adalah keyakinannya terhadap Imam mereka, bahwa mereka adalah pembimbing (hadi) dan yang diberi petunjuk oleh Tuhan (mahdi) dan seluruh fatwanya bersifat mengikat. Karena itu, mereka memberikan perhatian kepada fatwa dan keputusan Ali. Dengan alasan inilah, kompilasi pertama dilakukan di kalangan Syi’ah oleh Sulayman ibn Qays Al-Hilali, seorang yang hidup sezaman dengan Al-Hajjaj.
Allamah Sayyid Syarif Al-Din menulis:
"Imam Ali dan para pengikutnya menaruh perhatian terhadap masalah ini sejak awal. Hal pertama yang diperintahkan oleh Ali adalah menulis Al-Quran secara utuh yang dilakukannya setelah wafatnya Nabi, sesuai urutan kronologis turunnya wahyu. Dalam penulisan itu, dia pun menunjukkan ayat-ayat yang amm atau khashsh, mutlaq atau muqayyad, muhkam atau mutasyabih.Setelah proses kompilasi itu, dia mulai menghimpun sebuah buku untuk Fatimah. Setelah itu, dia menulis buku yang kemudian dikenal sebagai Shahifah. Ibn Sa’ad telah mengisahkan dalam sebuah musnad dari Ali di akhir karyanya yang terkenal Al-Jami. Pengarang Syi’ah yang lain ialah Abu Rafi, yang menghimpun sebuah karya yang disebut kitab Al-Sunan wa Al-Ahkam wa Al-Qatada."
Almarhum Sayyid Hasan Al-Shadr menulis bahwa Abu Rafi, maula dari Nabi, adalah orang pertama dari kaum Syi’ah yang menyusun buku. Al-Najasi dalam Fihrist –nya, menyebutkan bahwa Abu Rafi adalah salah seorang generasi pertama diantara pengarang Syi’ah. Sebagai Syi’ah Ali, Abu Rafi ikut serta dalam peperangan Ali dan mengepalai Bait Al-Mal di Kufah. Karyanya, Al-Sunan, yang dimulai dengan bab tentang shalat, diikuti oleh bab tentang puasa, haji, zakat dan penilaian hukum yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ubayd Allah ibn Abi Rafi, dari bapaknya yang diriwayatkan dari ayahnya, Abu Rafi, dari Ali. Di kufah, buku ini diceritakan pada zaman Al-Najashi oleh Zaid ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Al-Mubarak
Ali ibn Abi Rafi, putranya Abu Rafi, seorang tabi’it dan Syi’ah yang terkenal, juga telah menyusun sebuah buku yang berisikan bab-bab tentang berbagai tema hukum, seperti wudhu’, shalat, dan sebagainya.
Sepert telahdisebutkan di atas , abu Hanifah memanggil Imam Ash-Shadiq dengan julukan ‘kutubi" (ucapan dari dia adalah "innahu kutubi"), dan ini merupakan suatu karakter yang membedankannya dari yanglkaihn. Ketika mendengar hal itu, dia tertawa dan berkata: "Yang benar adalah perkataannya bahwa aku adalah seorang suhufi: karena saya telah membaca menunjukkan bahwa Imam memiliki

















BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
v  Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab termasyhur atau populer dikalangan ilmu hadist itu sangat banyak, yang secara garis besarnya adalah:
·         Kitab-kitab hadist pada abad ke-3 H.
·         Kitab-kitab hadist pada abad ke-4 H.
·         Kitab-kitab popular pada bidang Ulumul Hadist
·         Kitab-kitab hadist yang shahih
·         Kitab-kitab hadist Shahih selain Bukhari dan muslim
 yang sebaiknya kita ketahui untuk memperdalam ketajaman intelektual kita dalam ilmu pengetahuan khususnya dalam pembahasan hadist.
v  Selain itu penulis juga menyajikan derajat-derajat hadits, yang ringkasnya derajat hadist itu terbagi kedalam tiga tingkatan.
·         Derajat tingkatan Shahih yang yang menghimpun hadist-hadist shahih
·         Derajat tingkatan Hasan yang menghimpun hadits-hadist yang diketahui makrajnya dan masyhur orang-orang yang meriwayatkannya.
·         Derajat hadits tingkatan Dla’if yang menghimpun  hadits yang tdak ada padanya sifat-sifat shahih dan Hasan.




v  Terakhir penulis menyajikan pembahasan sistem penulisan dari hadist seperti sebagai berikut
·         Tulislah hadist sesuai dengan keadaan ketika hadist itu diriwayatkan, baik berkenaan dengan syakal maupun titik-titiknya agar tidak terjadi kekeliruan
·         Penulisan lafal-lafal yang bersyakal hendaknya diberi keterangan cara membacanya berkali-kali
·         Selalu menuliskan shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw.

3.2 SARAN
     Mahasiswa sebaiknya lebih interaktif ketika melaksanakan diskusi masalah hadits ini. Pemateri diharapkan lebih menguasai materi yang akan dibahas atau dipresentasikan, sebaliknya audiens yang dianalogikan sebagai penguji, sebaiknya lebih kritis dalam menguji pemateri, berikan pertanyaan yang bermakna sedalam mungkin, supaya lebih menantang pemateri untuk berusaha mengasah ketajaman intelektualnya dan demikian pula dengan audiens.







DAFTAR PUSTAKA

Az-Zabidi, Imam. Shahih al-Bukhar. Pustaka Amani, Jakarta : 2002
Hajar, Ibnu al-Asqolani. Terjemah Bulughul Maram. 2006
Khon, Majid., Bustamin., Haris, Abdul. Ulumul Hadis. Pusat Study Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta : 1982
Nurudin, ’ITR. Ulum al-Hadits 1, PT Remaja Rosdakarya, Bandung :1994.
Qadir, A. Hasan, Ilmu Muusthalalah Hadis. C. v. Diponegoro, Bandung : 1982
Soetari, Endang. Ilmu Hadits, Kajian Riwayah dan Diriyah. Mimbar Pustaka, Yogyakarta:1994
Syekh Aziz, Abdul bin Baz. Sahih al-Bukhari bersama sarahnya Fathul Bari. Salafiyah, Kairo :1380 H
Tadwin Al-hadis http://tadwin Al-hadis.blogspot.com/2007/02/.html
Thahan, Mahmud. Ulumul hadis, Study kompleksitas Hadis Nabi. Titian Illahi Press, Yogyakarta : 1999.





[1] Ada yang membagi dua saja yaitu shahih dan dla’if
[2] Keempat ta’rif ini lihat kitab “Qawa’idut Tahadist”
[3] Shahih Bukhari 2:27
[4] Lihat “ Tah-dzibut-Tahdzib” 6:106
[5] “sunan Ibnu Majah” 1:385
[6] “shahih Turmudzy” 1:15
[7] Lihat “ Tah-dzibut-Tahdzib” 6:15
[8] Ihya ‘Ulumuddin 1:111
[9] “Nailul-Authar” 1:13
[10] Yitu kitab-kitab yang menerangkan sifat atau keadaan seorang rawi.
[11] Al fiyah suyuthy 20
[12] Fathul bari 3:10,144 Musnad Ahmad 3:120;Shahih bukhori 4:51
[13] Sarah baiquniyah 18
[14] Fat hul Bari 3:115 dan
[15] Fat hul Bari 3:115 dan al mad khal 11
[16] Syarhud Dijab 17
[17] Shahih turmudzi
3 ‘Adil, dlabith, syudzudz dan ‘illah, lihat keterangannya di halaman 25
4 Shahih turmudzy 1:38
[20] Tah-dzibu-Tahdzib 9:375
[21] Mastur: Rawi yang tidak diketahui keduannya.( lihat fasal “majhul” yang akan datang)
[22] Mudallis : Rawi yang menyamarkan ( lihat fasal “Mudallas”)
[23] Lihat kitab “ At-Tauqirat Sunniyah”, Hlaman 6.
[24] Alfiyah Suyuthi 82-95

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar