Kamis, 07 April 2011

Proses Interpretasi Bag. 1

PROSES INTERPRETASI

Menjadi seorang penerjemah atau penafsir (interpreter) membutuhkan ketekunan dan kerja keras agar dapat menjadi seorang penerjemah yang profesional dan sukses. Ketika Anda diberikan sebuah job Anda harus mempersiapkan segala sesuatunya secara matang agar Anda dapat meminimalisasi kesalahan yang mungkin Anda buat. Ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan sebelum Anda benar-benar melakukan pekerjaan tersebut.

1.     Tujuan dari pembicaraan dan Latar Belakang Pembicara

 Proses pertama adalah mengumpulkan segala hal yang berkaitan dengan  pesan dan tujuan dari pembicaraan, pembicara, dan situasi dengan tujuan untuk membantu penerjemah mengumpulkan ide-ide, informasi tentang mengapa komunikasi ini berlangsung, pesan apa yang ingin disampaikan dan bagaimana caranya agar pesan tersebut dapat tersampaikan dengan tepat, efektif, dan efisien.Interpreter harus dapat memprediksi hal-hal apa saja yang akan di bahas atau pun segala hal yang diprediksi akan muncul, seperti istilah atau kosakata-kosakata yang bersifat belum lazim. Analisis ini dimulai setelah tugas diterima dan sebelum pekerjaan interpreting sebenarnya dimulai “... status differential between clients and between the client and the interpreter will impinge on the interpreter’s role”.[1]
Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah pembicara. Penerjemah harus dapat mempertimbangkan berbagai hal yang dapat mempengaruhi karakter dari pembicara baik dari segi sosial maupun budaya. Diantaranya, jenis kelamin, tingkat pendidikan, orientasi seksual, etnis / ras latar belakang, gay / lesbian, keagamaan, rekreasi, dan kejuruan, lingkungan tempat tinggal dan kesejahteraannya. Seorang penerjemah juga harus mampu memprediksi atau mengetahui, Apakah Speaker bergairah dengan apa yang akan dibicarakannya atau bersikap acuh tak acuh? Apakakah Speaker merasa gugup atau santai ketika berhadapan dengan Listener? Apakah  Speaker tertarik untuk berinteraksi dengan Listener? Apakah pembicara introver atau ekstrover, detail-oriented atau holistik, dramatis, serius, hati-hati, menghibur, lucu, dan seterusnya.

2.     Setting

Berikutnya, hal yang harus diperhatikan adalah, dimana interaksi itu berlangsung, sekolah, ruang kantor, ruang publik, internal, pedesaan atau kota? Selain itu, seorang penerjemah juga harus mengetahui peraturan-peraturan atau budaya dari tempat tersebut. Siapakah Listener? Hal penting lainnya adalah seorang penerjemah harus dapat mengetahui apakah Speaker dan Listener sudah mengenal satu sama lain atau belum. Karena ini tentu saja akan berpengaruh terhadap berlangsungnya proses interpretasi.
Setelah selesai mengumpulkan data-data tersebut, hal terakhir yang harus dilakukan seorang penerjemah adalah melihat ulang kebenaran data tersebut agar dapat meminimalisasi kesalahan yang mungkin terjadi secara tidak terduga.

3. Mendengarkan

Proses selanjutnya adalah mendengarkan pesan yang disampaikan oleh Pembicara. Sebagaimana dikemukakan oleh Adolfo, mendengarkan, dengan kata lain, adalah sebuah proses mengamati secara sadar dan sengaja dengan penuh konsentrasi.[2] Tidak hanya mendengarkan, penerjemah juga harus menggunakan berbagai informasi yang telah dia dapat sebelumnya untuk dikombinasikan dan juga keterampilan yang dia miliki untuk memahami gerakan non-verbal yang menyiratkan makna juga berkonsentrasi agar tidak terpengaruh dengan pemikiran atau pun masalah pribadi dan keadaan lingkungan sekitar.  
Ada empat tingkatan yang berbeda atau kedalaman pengolahan. Pertama ada tingkat leksikal, yang melibatkan pengolahan hanya sebuah kata, idiom, atau kata kerja phrase. Hal ini dapat berguna ketika menafsirkan nama atau beberapa jenis hal. Kedua adalah tingkat phrasal, yang melibatkan pengolahan sebagian dari keseluruhan pikiran, seperti kata benda frase atau frase kata kerja (yaitu "anak laki-laki muda dengan rambut coklat"). Ketiga adalah tingkat sentensial, atau unit pengolahan kalimat. Hal ini melibatkan bekerja dengan seluruh pikiran (untuk simultaneous interpreting, seorang penerjemah harus bertujuan untuk bekerja pada tingkat ini). Keempat adalah tingkat tekstual, yang berarti bekerja dengan mentafsirkan seluruh teks. Pembicara dipersilakan untuk menyelesaikan seluruh pembicaraannya sebelum Penerjemah mulai menterjemah atau menafsirkan. [3]


[1] Gentile, Adolfo. Ozolins, Uldis. Vasilakakos, Mary. Liaison Interpreting. Melbourne University Press, Victoria, Australia, 1996, hal. 33.
[2] Ibid, hal. 41.
[3] http://www.gwenswork.net/pdfs/colonomos. Tuesday, March 02, 2010. 08:30 am

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar