Sabtu, 23 April 2011

Pedidikan sebagai Sistem

Pedidikan sebagai Sistem
                McAhsan (1983) mendefinisikan sistem sebagai strategi yang menyeluruh atau rencana dikomposisi oleh satu set elemen, yang harmonis, mempresentsikan kesatuan unit, masing-masing elemen mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis. Sementara itu Immegart (1972) mengatakan esensi system adalah merupakan suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya.
                Dari uraian diatas dapat dikemukakan ciri-ciri umum suatu system sebagai berikut:
1.       Merupakan suatu kesatuan atau holistic
2.       Memiliki bagian-bagian yang tersusun sistematis dan berhierarki.
3.       Bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain.
4.       Konsem terhadap konteks lingkungannya.
             Kalau suatu sekolah dipandang sebagai system, maka sistem-sistem lain yang ada disekitarnya seperti perumahan, pasar, pertokoan, ladang, sungai,jalan, dan sebagainya disebut suprasistem.
                Ciri-ciri system terbuka adalah sebagai berikut: (diilhami oleh Tanner, 1981).
1.       Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar. Pendidikan akan mendatangkan pengajar, uang, alat-alat belajar, para peserta  didik, dan sebagainya dari luar lembaga pendidikan.
2.       Memiliki pemroses. Pendidikan memroses peserta didik dalam proses belajar mengajar.
3.       Menghasilkan output atau mengekspor materi, energi, dan informasi. Pendidikan disamping menghasilkan lulusan, juga memberi pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat.
4.       Merupakan kejadian yang berantai. Memproses input pendidikan (peserta didik) merupakan kegiatan yang berulang-ulang dan berkaitan.
5.       Memiliki negative entropy, yaitu suatu usaha untuk menahan kepunahan dengan cara mebuat impor lebih besar daripada ekspor. Dalam pendidikan hal ini dilakukan dengan cara mengantisipasi perubahan lingkungan dan memperbaiki kerusakan.
6.       Mempunyai alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri. Segala informasi berkaitan dengan pendidikan dimanfaatkan oleh manajer untuk mengambil keputusan dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki pendidikan.
7.       Ada kestabilan yang dinamis. Pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki diri, memejukan diri, agartidak ketinggakan zaman, malah berusaha  menyongsong zaman yang akan dating. Tetapi dinamika itu dilakukan dalam batas-batas tidak sampai menggoyahkan lembaga pendidikan.
8.       Memiliki deferensiasi, yaitu spesialisasi-spesialisasi.  Dalam organisasi pendidikan ad bagian pengajaran, keuangan dan kepegawaian, dan kesiswaan/kemahasiswaan. Masing-masing bagian ini masih dapat dipecah lagi menjadi bagian-bagian yang kebih kecil.
9.       Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang sama. Para pendidik boleh berkreasi menciptakan cara-cara baru yang lebih baik dalam usaha memajukan pendidikan.

Sebagaimana diketahui bahwa managemen pendidikan adalah merupakan inti dari suatu proses mengolah input menjadi lulusan pada setiap lembaga pendidikan. Struktur pendidikan yang jelas dan terinci akan menjamin kelancaran tugas para personalia pendidikan. Sejalan dengan aturan pemerintah bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat, maka sudah selayaknya subsistem lingkungan perlu diperhatikan oleh manager pendidikan.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar