Senin, 14 Maret 2011

Pengelolaan SDM Pendidikan

Banyak sumber daya manajemen yang telibat dalam organisasi atau lembaga-lembaga termasuk lembaga pendidikan, antara lain: Manusia, sarana dan prasarana, biaya, teknologi dan informasi. Namun demikian sumber daya yang paling penting dalam pendidikan adalah sumber daya manusia. Bagaimana manajer menyediakan tenaga, bakat kreativitas dan semangatnya bagi organisasi. Karena itu tugas terpenting dari seorang manajer adalah menyeleksi, menempatkan, melatih dan mengembangkan sumber daya manusia. Persoalannya pengembangan sumber daya manusia mempunyai hubungan yang positif dengan produktivitas dan pertumbuhan organisasi, kepuasan kerja, kekuatan dan profesionalitas manajer[1].
Sumber daya manusia menurut Shetty dan Vernon B. Bucher (1985) terkandung aspek: Kompetensi, keterampilan atau skill, kemampuan, sikap, perilaku, motivasi dan komitmen. Dalam pendidikan, jenis sumber daya berdasarkan ruang lingkup keterlibatannya ke dalam penyelenggaraan pendidikan dikelompokan ke dalam SDM Pendidikan dalam sekolah dan SDM Pendidikan luar sekolah. Apabila dilihat dari segi tugas pokoknya, dibedakan menurut tenaga teknis, tenaga administratif dan tenaga penunjang. Selanjutnya dalam PP/1992 Tentang Tenaga Kependidikan ditegaskan pengelompokannya menjadi tenaga pendidik (Pembimbing, pengajar, pelatih), pengelola, pengawas, laboran, teknisi sumber belajar, peneliti dan penguji[2].
Persoalan pokok dalam pembinaan tenaga kependidikan adalah pembinaan etos kerja. Etos kerja adalah sikap mental untuk menghasilkan produk kerja yang baik, bermutu tinggi baik barang maupun jasa. Menurut Mochtar Buchari,  etos kerja dipengaruhi oleh variabel sikap, pandangan, cara-cara, dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang ada pada seseorang, suatu kelompok, atau bangsa. Pembinaan etos kerja ini merupakan bagian dari pembinaan tata nilai (Value system), dan dalam dunia pendidikan masalah ini tidak cukup diperhatikan. Pada pengembangan mutu SDM ini yang paling banyak dilakukan pembinaan keterampilan untuk melakukan sesuatu yang nyata seperti keterampilan komputer, menjahit, akuntansi, dan sebagainya. Akan tetapi membentuk keinginan bagaimana melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sebaik-baiknya kurang diperhatikan. Tentunya hal ini hanya dapat terwujud jika kemampuan menghasilkan sesuatu yang bermutu itu di tunjang oleh etos kerja, motivasi tinggi untuk berprestasi. Bagaimana cara memupuk etos kerja? Salah satu usaha dengan menciptakan suasana kerja yang mengantarkan perilaku karyawan atau guru kearah yang lebih produktif secara langsung mengubah sikap, pandangan, harapan dan keterampilan atau keahlian yang lebih efektif yang sekarang sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Dan, ini tantangan para manajer atau pimpinan pendidikan[3].
Secara umum pengelolaan pendidikan adalah aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya (Made Pidarta, 1988)[4].
Pengelolaan pendidikan, menurut hartati sukirman (1998), adalah penataan, pengaturan kegiatan-kegiatan lain sejenisnya yang berkenaan dengan lembaga beserta para komponennya, dan dalam kaitannya dengan pranata dan lembaga lain. Mulyasa (2002), menjelaskan bahwa pengelolaan pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pengelolaan pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan penyelenggaraan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang[5].
M. Sobri Sutikno (2005), mengartikan pengelolaan pendidikan sebagai serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memotifasi, mengendalikan, dan mengembangkan, segala upaya didalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan pendidikan[6].
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan pendidikan merupakan rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara bersama dan sistematis yang diselenggarakan dilingkungan / organisasi pendidikan. Atau dalam pengertian yang lain pengelolaan pendidikan juga bisa diartikan sebagai cara bekerja dengan orang-orang dalam rangka usaha mencapai tujuan  pendidikan yang efektif, yang berarti mendatangkan hasil yang baik, tepat dan benar sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam arti sederhana, pengelolaan pendidikan merupakan proses pencapaian tujuan pendidikan melalui kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian dan pengendalian[7].  


[1] DR. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Rosda, Bandung, 1996, hlm. 13
[2] Ibid. hlm. 14
[3] Ibid
[4] Dr. H. Afifuddin. MM. & M. Sobry Sutikno. Op. cit, hlm. 4
[5] Ibid
[6] Ibid. hlm. 5
[7]    Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar