Selasa, 08 Maret 2011

Perkembangan Genre di Indonesia

1.     Penjelasan teori tentang genre dan implikasinya terhadap pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.
a.    Perbedaan tiga perkembangan konsep genre dalam bidang bahasa.
Perkembangan Konsep Genre
a. Retorika Baru di Amerika Utara
b. English for Special Purpose
c. Systemic Functional Grammar di Australia


Dalam ketiga tradisi tersebut, genre lebih sering dikaitkan dengan teks tertulis dan untuk pengembangan kemampuan retorik dan keaksaraan (membaca dan menulis). Namun dalam tradisi SFL di Australia, konsep genre juga diterapkan dalam pendidikan bahasa Inggris lisan dan tertulis, untuk pengembangan kemampuan literasi di pendidikan dasar dan menengah, terurtama bagi para imigran dan golongan masyarakat kurang beruntung lainnya.

a.    Penguasaan “bahasa” dalam bentuk discourse (wacana) merupakan cara yang dominant untuk menentukan keberhasilan pendidikan seseorang.

Bahasa adalah alat untuk berwacana yang digunakan untuk berbagai kegiatan dengan tujuan menyelesaikan masalah yang secara nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan semakin banyaknya masalah yang dapat terselesaikan berarti orang tersebut dianggap telah memiliki keberhasilan dalam bidang pendidikan baik secara formal, informal, maupun nonformal walaupun keberhasilan menyelesaikan suatu masalah bukanlah satu-satunya indikator yang digunakan untuk menentukan keberhasilan pendidikan seseorang. Oleh sebab itu, dalam bidang bahasa asing atau bahasa kedua, penggunaan genre sebagai basis pembelajaran dapat dikaitkan dengan asumsi bahwa kualitas dan derajat hidup manusia ditentukan oleh amalnya, yaitu berbagai hal yang telah dilakukan dalam hidupnya. Jika memang derajat manusia ditentukan oleh tindakan atau pekerjaan yang berhasil diselesaikannya, maka dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan salah satu tolak ukurnya. Lebih tepatnya, menurut Fairclough (1992), kemampuannya terlibat dalam discourse atau ‘wacana’, karena penguasaan wacana merupakan cara yang dominan untuk menunjukkan kekuasaan atau kekuatan seseorang atas lainnya. Bahkan menurut pengamatan Feuer (1992:145), genre telah dimanfaatkan oleh kaum Marxist sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial untuk memelihara kelangsungan ideologi mereka; suatu asumsi yang mendukung Fairclough, sebagimana telah disebutkan di atas, bahwa genre merupakan media untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan atau kekuasaan seseorang atas orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar